Going the extra miles

Posted by
              Judul diatas adalah kutipan dari buku “Negeri 5 Menara” yang artinya Jangan menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 1 km, dia akan berlari 3 km. Lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari orang lain. Ada juga resep sukses lainnya, Jangan pernah mengizinkan diri dipengaruhi unsur di luar diri. Oleh siapa pun, apapun dan suasana bagaimanapun. Artinya, jangan mau sedih, marah, kecewa, takut karena faktor lain. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian. Orang boleh menodong senapan tapi kita punya pilihan untuk takut atau tetap tegar .
Cerita buku ini, ‘aku’ banget lho!
 Perjalanan hidupku di PP Wali Songo Ngabar Ponorogo yang lokasinya juga dekat dengan Gontor. Tiap episode cerita tergambar jelas. Bahkan aku membaca Bahasa Arab, tanpa melihat  footnote, karena sudah tak asing lagi. Alif  tak jauh beda dariku, Alif yang suka menulis, Bahasa Inggris dan punya semangat tinggi. Sedikit yang aku sesalkan, kenapa aku dulu tidak serius ‘menjelma’ menjadi burung yang siap terbang kemanapun untuk meraih cita-cita. Ya, meskipun aku punya semangat tinggi, aku selalu terkalahkan dengan ‘perasaan’. Tanpa logis. Aku pun juga tidak seberuntung Alif yang memiliki kawan2 yang ‘unik’. Dulu, sempat terlintas di benak ingin membuat novel dengan background Pondok pesantren, tapi??? Sampai sekarang aku masih diribetkan dengan misi hidup sendiri.
Kairo atau STIE TAZKIA, sebenarnya menjadi pintu gerbang masadepanku yang lebih menarik tetapi restu orangtua tak kunjung jua, hingga UIN MAULANA MALIK IBRAHIM terpilih menjadi tempatku menuntut ilmu. Empat tahun berlalu, sebelum lulus aku sekaligus melanjutkan kuliah S3 yakni ISTRI. Kini aku telah dikaruniai dua anak yang ‘heboh’. Tak ada pilihan lain kecuali menjadi ibu rumah tangga, sempat kerja 1 tahun menjadi pengajar tapi ternyata membuat kebiasaan menulisku kabur. Alih-alih meng-combine pengalaman dengan bisa menulis tapi ternyata aku tak mampu karena waktu yang tak tersisa, kondisi keuangan yang belum ter-manage dan kondisi fisik yang tak bisa diajak kerjasama.
Allah Maha Tahu mana yang terbaik untuk hambaNya.
Buku ini menjadi inspirasi bagiku untuk tidak lengah ‘cukup sampai di sini’. Setidaknya menjadi sinar yang mampu menerangi redupnya hati, pikiran, dan impian. Mampukah mantera MAN JADDA WA JADA yang juga pernah kudapat dari PP WALI SONGO NGABAR PONOROGO membawa aku pada impianku yang telah tenggelam? Mampukah mantera itu ‘menyulapku’ menjadi wanita tegar, kuat, tidak mengeluh, tidak sombong, sederhana dan tidak pernah puas dengan satu prestasi saja?
Di usiaku yang ke-25 tahun, aku masih punya harapan panjang untuk menjadi WOMEN ENTREPRENUR sukses. Di sisi lain, aku dilengahkan dengan berbagai argumentasi yang meledak-ledak tanpa api, seperti :
-          Aku tidak memiliki skill apapun, sedangkan era sekarang bisnispun kudu ‘kreatif’ kalau tidak ingin digulung perusahaan besar dan teknologi.
-          Aku hidup di desa yang sehari hari sibuk dengan dua anak yang tak bisa kutinggalkan karena mereka dalam masa tumbuh kembang.
-          Masih berminat di dunia pendidikan, menjadi pendidik
-          Ada ketertarikan ‘bekerja’ di zona nyaman
-          Bingung dengan cita-cita
And than….hanya satu statement “Ya Allah, beri aku pencerahan, bantu aku untuk bangkit, bantu aku menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain dalam bidang apapun”
Langkah selanjutnya adalah langkah-langkah naik kelas…
1.       Membuat peta impian
2.       Berkarya lewat tulisan
3.       Awali semuanya dengan Try it…
Pak Mario said “lalu perhatikan apa yang akan terjadi…!!!”