Belajar ‘bertetangga’

Posted by
         Moms, Bersikap ‘cuek’ itu diperlukan. Cuek apa yang dikatakan orang lain tentang kita. Tak baik jika energi terus terkuras karena memikirkan apa kata tetangga. Berumah tangga itu belajar kehidupan, kepada keluarga dan para tetangga. Beda banget rasanya tinggal di kota atau di desa. Dulu, ketika aku kontrak rumah di kawasan perumahan, belum pernah aku merasakan masakan orang lain, bertukar sayur hari ini dengan tetangga samping rumah, lain halnya dengan di desa, yang masih kental dengan nuansa ‘berbagi’.

“Mbak Nurul, masak apa hari ini? aku tadi masak gurami bakar, cobain deh!” tawar Mb Rika tetangga depan rumah
“Makasih lho mbak, nggak usah repot-repot. Aku belum masak tuh, masih nyuci” aku cengar-cengir kegirangan dalam hati, seneng banget dapet gratisan.hehe 
“Eeitts, ingat-ingat lho! kapan-kapan kalau ada rejeki, berbagi dengan mbak Rika juga” ujarku dalam batin
‘Berbagi’ itu menyenangkan. Tetangga, yang awalnya orang nggak kenal terus lama kelamaan jadi seperti saudara sendiri. Makanya, yang membuat kita betah di rumah itu salah satunya adalah tetangga. Tapi, gimana ya Moms, kalau dapat tetangga yang nyebelin? Misalnya, pelit, cuek alias nggak perhatian, nggak tegur sapa, suka gosip, atau…….

Nuansa Kota Vs Nuansa Desa
            Sejak empat tahun silam, aku sudah belajar ‘bertetangga’, kontrak rumah selama tiga kali dan sekarang sudah rumah sendiri, pernah tinggal di kota dan di desa, cuman bukan kota besar lho, kayak Jakarta atau Surabaya.
Kalau pengalamanku sih, tinggal di kota memang ‘LOE-GUE’ ya? Mereka kenal yang namanya fesbuk, tuiter, browsing,  sinyal oke, cukup depan komputer, hape atau lepi udah tahu aneka informasi, kebanyakan emang jarang keluar rumah kecuali ke kantor atau shopping, Tapi ini nggak bisa digeneralisir kalau orang kota seperti itu. Ini ni, aku punya cerita lucu pas tinggal di perumahan kawasan kota Kediri.
Pagi itu, aku bersama ibu-ibu lagi pilih-pilih sayuran di penjual samping rumah. Nah, kebetulan Pak Joko Lewat sambil lari-lari kecil, aku baru tiga bulan pindah ke perumahan ini, banyak yang belum aku kenal
“Pagi ibu-ibu…..”tegur pak Joko
“Pagi Paaaaaak….” Jawab kami serentak
“Lho! Bapak orang sini tho? Rumahnya blok apa?” Tanya Ibu Susi sampingku
“Iya bu, Mari!”
    Aneh. Ibu susi dah lama tinggal di sini tapi malah baru kenal sama pak Joko. Nah tuh, ketahuan banget kalau orang kota emang jarang ‘nyapa’ tetangga.
“Ternyata pak Joko orang sini ya, saya kemarin ketemu di seminar lho” kata bu Susi
***iiihhhhh….malu atuh ^^***
Moms, Gimana kalau di desa? Orang desa sih banyak waktu buat ngrumpi. Coba deh, Tanya nama warga desa yang tempat nya. Jauuuuuh di gang 17, pasti ngerti!
Tapi, bener nggak sih kalau tinggal di desa, sarat dengan ‘gosip’? karena banyak waktu luang untuk ‘cangkruk’ di pojok perempatan, bisa aja tuh berita cepet nyebar. Yang pasti, tinggal dimanapun kita tinggal, di situlah kita menebar kebaikan, itu aja cukup supaya tetangga nyaman dengan keberadaan kita, seneng berbagi, saling menasehati, senang membantu dan mendoakan mereka. Semoga bermanfaat