Berbagi itu…..nggak rugi!! & Berbagi itu nggak harus dengan uang

Posted by
         Kok judulnya ada dua? Hu’uh….*bingung*, saya ingin mengexpresikan isi tulisan, tertuang dalam judul itu, tulisan ini hendak saya kirimkan ke sebuah ajang lomba penulisan pengalaman pribadi dari Ruang Kata. Tapi tertunda lagi, hiks….padahal udah hampir selesai, lagi-lagi kendala klasik….-nggak ada waktu buat megang lepi-
Gpp…. yang penting nulisnya tersalurkan, baca deh! Akan anda temukan makna “DIBALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN”
     Malang, Tahun 2006
“Sore ini kakak tidak ada kuliah?” Tanya seorang bocah yang tengah membawa gitar usang
            “Ada, kira-kira jam empat dosennya baru datang, kita masih ada waktu setengah jam lagi untuk belajar, ayooo…yang lainnya, siapa yang belum faham materi tadi?” Aku masih melanjutkan penjelasan materi kepada enam anak jalanan yang kesibukannya mengamen di jalan.
Usai pertemuan selesai, aku bergegas menuju tempat pemberhentian angkot, meluncur ke kampus. Hari ini jadwal memang sangat padat, mulai pagi aku belum istirahat. Kadang aku juga kangen dengan kamar kost-ku yang kujumpai hanya beberapa saat, kemudian terlelap.
“Oya, Mbak Ais jangan lupa ya nanti jam tujuh, habis sholat ‘isya kita ke sini lagi, rapat membahas agenda khitanan massal!” ujarku pada teman seperjuangan yang dari tadi menemaniku
Saat itu aku miris melihat anak-anak jalanan yang sering ‘berkeliaran’ di perempatan jalan. Adakah hal yang bermanfaat untuk mereka?
Berfikir praktis dan sederhana. Akhirnya, aku dan dua temanku yang tergerak hatinya untuk membantu, menyusun sebuah program ‘belajar bareng’ untuk anak jalanan, sekecil apapun upaya kita yang paling penting adalah konsistensi.
Iya, tanpa berfikir panjang, kami mulai melakukan pendekatan dengan anak jalanan, bertegur sapa, saling mengenal, kemudian berhasil. Dalam waktu satu bulan, kami kewalahan karena banyaknya anggota dari anak jalanan yang berminat untuk bergabung.
*****
            Bagi kebanyakan orang, memberi itu cukup berupa uang, membagi dari sebagian harta yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan. Namun, tahukah anda ternyata memberikan sebagian waktu, tenaga dan fikiran kita untuk orang lain ternyata memiliki dampak yang luar biasa pada kehidupan diri sendiri?
            Penggalan cerita yang saya tulis diatas adalah secuil aktivitas saya enam tahun silam, saat kuliah di Malang. Segudang aktivitas untuk orang lain tak membuat urusan pribadi ‘keteteran’. Secara logika, memang sulit difahami, tetapi rangkaian skenario Tuhan selalu ada kemudahan-kemudahan untuk urusan pribadi.
            Bagi seorang mahasiswi, tentu sulit membagi waktu antara kuliah, belajar, berorganisasi, dan bekerja. Tapi apabila mempunyai tekad kuat dan semangat, InsyaAllah akan mudah dijalani dan saya sudah membuktikannya. 

            Flashback….
            “Rul, hari ini pendaftaran terakhir KKN fakultas Ekonomi angkatan kita, kamu udah daftar?” Tanya teman sebangku
            Keningku berkerut,
            “Terakhir? Bukannya kurang dua minggu lagi?”
            “Nggak, hari ini kan tanggal tiga bulan Mei? Tegasnya lagi
            Dompetku sudah tak berisi lagi, uang hasil mengajar privat juga belum aku pegang. Hari ini bersamaan jadwal pertemuan dengan Pegawai Dinas Sosial Kota Malang, membahas tentang peresmian lembaga anak jalanan yang selama ini aku jalankan bersama teman-teman. Iya, sejak dua tahun aktivitas ‘belajar bareng’ dijalankan, kini mulai dilirik masyarakat sekitar, apresiasi para relawan antar kampus mulai berdatangan, akhirnya munculah ide pembentukan lembaga yang memiliki badan hukum, supaya akses pendanaan dan manajemen ‘belajar bareng’ ini tertata apik.
            “Tapi, hari ini aku hanya bisa ikut kuliah jam pertama saja, aku izin nanti” Ucapku
“Baiklah….aku hanya mengingatkan saja, aku tidak ingin kamu lambat lulus kuliah hanya karena kesibukanmu itu”
“Fit, makasih ya atas perhatiannya, tentang KKN, aku sampaikan dulu ke dosennya” kataku sambil bergegas keluar ruangan
Aku berjalan cepat, sesekali berfikir tentang KKN, lembaga Anak Jalanan, dan uang. Semua memang butuh pengorbanan, tapi dalam waktu bersamaan aku bisa mendapatkan uang dari mana? Jujur saja, berorganisasi juga butuh uang, sedangkan waktuku tak banyak untuk bekerja, privat dua kali dalam satu pekan bukan menjadi solusi utama. Aku juga belum bisa fokus bisnis, masih sambilan dan sekedarnya saja.
Tiba-tiba Handphone di tas berbunyi, tanda SMS masuk

Alhamdulillah, Rul pengajuan proposalku tentang konversi KKN telah lolos
Sender :
Heni, Unmer
+6285749318374

Konversi KKN, program yang diusulkan untuk mahasiswa aktif di berbagai organisasi dan memiliki berbagai prestasi.
“Ahaaa, kenapa tidak aku coba mengajukan konversi juga ya? bukannya aku juga aktif di berbagai kegiatan luar kampus dan sering ikut lomba karya tulis?”
Kakiku melesat diantara ruang-ruang sempit, terhenti pada ruang dosen FE, aku segera melakukan ‘negoisasi’ dengan dosen yang berwenang dengan program KKN, bermaksud untuk mengajukan program Konversi KKN.
Jam menunjukkan pukul sebelas, aku terlambat setengah jam dalam acara pertemuan dengan Dinas Sosial, semoga disana sudah ada teman-temanku, batinku gelisah
“Baiklah, saya beri waktu seminggu untuk membuat proposalnya, kemudian dibawa kesini, kalau tidak layak, kamu harus ikut KKN!” Kata dosenku mengultimatum
“Baik, pak.”
Setahuku memang baru kali ini ada pengajuan konversi KKN di fakultas ini, dan aku yang pertama kali mencoba. Bismillah
**** 
“Semoga dengan peresmian Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca ini dapat menjadikan anak jalanan semakin mandiri dan memiliki kecakapan hidup baik sisi intelektual dan spiritual mereka, program unggulan ‘Belajar Bareng’ ini perlu ditingkatkan, untuk lebih memperhatikan adik-adik kita yang memiliki kesibukan lebih banyak di jalan, sekali lagi terimakasih buat teman-teman mahasiswa, warga setempat dan para donator, semoga terus semangat” akhir pidato pegawai dinas sosial
Aku kini bisa bernafas lega, dengan adanya struktur organisasi dan manajemen yang memadai dalam lembaga ini, semakin banyak adik-adik anak jalanan yang terakomodir, begitu juga para relawan yang ikut bergabung. Mengajarkan arti berbagi.
Seminggu berlalu, aku harus berfikir keras tentang KKN, menunggu keputusan yang tidak pasti.
Permisi. Assalamu’alaikum…
“Ini pak pengajuan konversi KKN saya….” aku sodorkan dengan harap-harap cemas
Beberapa menit masih dibuka, dilihat dan tak ada jawaban
“Nanti saya hubungi, perlu dimusyawarahkan dengan dosen lain!” kata beliau
Aku keluar, untuk mencairkan suasana aku melihat jadwal hari ini. Terlintas di benak tentang KKN, begitu banyak dana yang harus kukeluarkan, sedangkan waktuku juga terbagi dengan kegiatan luar kampus. Huuffh….
“Apapun keputusan dosen, itu adalah skenario Allah” ujarku menghibur diri
Harapan itu masih ada. Selang beberapa menit berjalan.
Alhamdulillah, proposalku diterima, beberapa dosen mengapresiasi kerja kerasku untuk berorganisasi di luar kampus sekaligus dengan beberapa penghargaan dalam bidang kepenulisan. Maha besar Allah, kemudahan itu memang nyata jika Engkau berkehendak.
Mataku berair. Terharu biru.
*****
            Hingga kini, Lembaga pemberdayaan Anak Jalanan masih berdiri tegak, meski kadang, jalan tak mesti lurus seiring dengan pergantian pengurus. Aku lulus kuliah tepat waktu. Para relawan yang telah bergabung, telah menduduki posisi struktural kelembagaan, meskipun demikian aku tetap menjadi pengawas.
            Paska menikah, aku masih sibuk membina anak-anak jalanan melalui program ‘Belajar Bareng’, saat itu aku memilih tidak bekerja, meskipun suami juga masih kerja serabutan sesekali membantu lembaga ketika ada hajatan besar seperti program tahunan khitan massal, sembako murah, seminar anak jalanan, seminar Kids and Parenting dan masih banyak lagi.
            Rizki itu terkadang memang datang tiba-tiba, tak terduga. Bagi seorang karyawan, ada gaji tetap yang didapat, tapi tidak bagi aku dan suamiku. Kami memulai biduk pernikahan tanpa materi yang melimpah. Hanya bermodalkan optimis dan kerja keras lewat usaha makanan ringan dan les privat. Meski demikian menjadi bermanfaat bagi orang lain bukan menjadi kendala. Berbagai program harian, mingguan, bulanan dan tahunan dalam lembaga terus digulirkan dengan baik, kerjasama dengan pihak eksternal tetap kami jalin, komunikasi yang searah inilah menjadikan para donator dan pemerhati anak tetap mempercayakan donasi mereka ke lembaga ini.
            Hingga suatu siang, suami mengejutkanku dengan sebuah tanya
            “Dek, uang di dompetmu berapa?”
            “Lima puluh ribu, kenapa?”
            Keningnya berkerut. Berfikir. Sejak sebulan terakhir murid les privat mulai menurun. Suami memang kurang fokus. Banyak pekerjaan yang ia lakukan. Begitu juga denganku yang fisik melemah karena aku positif hamil dua minggu. Aku enggan kontrol, sekalipun ke bidan. Uang yang aku pegang tentu tak cukup untuk makan dua pekan ke depan. Aku hanya pasrah. Berharap pada Allah SWT untuk dimudahkan segala urusan.
            “Oya, nanti sore jadi berangkat ke markas, kan?” aku mengalihkan pembicaraan, markas adalah sebutan tempat persinggahan anak jalanan
            “Pastilah, nanti rapat terakhir untuk acara Hari Anak?!?”
            “Yuuuk.....bantu aku beres-beres!” bujukku
            Selain membantu di lembaga ini, suamiku juga relawan duafa dan fakir miskin di salah satu yayasan manajemen zakat. Apabila ada acara yang bersamaan, pulang ke rumah dalam keadaan capek luar biasa, tapi kami senang, menjadi bermanfaat bagi orang lain itu seakan menjadi pedoman hidup.
            Malam ini, suami pulang begitu larut. Aku terlelap begitu cepat. Saat bangun,
            “ Amplop apa ini, Mas?” Tanyaku penasaran saat melihat amplop coklat di samping bantalku
            “Oh, itu dari yayasan tadi malam” ujarnya lirih sesekali menguap karena kantuk
            Alhamdulillah, inikah rizki yang tak terduga itu, batinku
            Keesokan harinya aku segera ke bidan terdekat untuk memeriksakan kandungan. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, sangat mungkin bagi Allah. 
            Pengalaman hidup sebenarnya adalah bagian dari sekolah kehidupan. Tiap semester ada ujian, bahkan kadang tak terduga. Banyak impian-impian yang ingin kami raih, aku dan suami ingin meninggalkan lembaga anak jalanan dengan banyak pertimbangan. Selain kemandirian finansial pribadi, manajemen dan pengorganisasian pengurus sekaligus ‘satu hati’ para donator, relawan dan anak jalanan yang terjaga.
             

I