Singkong, Kupetik daunmu ya buat suamiku?

Posted by
Memasak, kini menjadi aktivitas rutin. Pagi, siang dan malam dengan menu yang berbeda. Ehm, ribet juga sih tiga kali harus masak. Tapi nggak tiap hari kok. Kalo lagi kepengen nyobain resep-resep. Yang  jelas, menu masakanku nggak jauh beda dengan menu ibuku. Jujur aja, belajar masak ya pas udah nikah, dulu pas kuliah sukanya beli di warung pinggir jalan, urusan menu tinggal pilih dan nunjuk mana yang aku suka. Hehe
Oya, pengalaman masak kali ini sangat berkesan bagiku. Yah, aku masak dari hasil kebun sendiri. Seneng dan bangga deh, sekaligus bisa ngirit uang belanja. Bangga karena aku bisa menjadikan pekarangan rumah menjadi kebun sayur yang hasilnya bisa kupetik kapan aja. Eeits, kadang juga tetangga pernah metik lho! Sedekah juga, kan? ^^
Pagi itu, aku mulai ngambil daun-daun singkong yang masih muda, suami suka banget dengan daun ini, tapi aku diam-diam tanpa sepengetahuan suami, karena kalau ketahuan bisa berabe rencanaku, *lho emang kenapa?*



Nah, sebulan yang lalu aku pernah masak daun singkong ini rasanya pahit banget, akhirnya masakanku dibuang, dilempar buat makan ayam. Hiks-hiks….siapa yang nggak sedih coba. Yah, suami sih nggak marah cuman rada kesel githu, pulang kerja laper, eh…dihidangin osengan pahit?
“Dek, itu daun singkongnya beli dari pasar ya? pahit?” Tanya suami
“Nggak kok mas, tadi ngambil dari belakang rumah, tapi masih muda tu daunnya, aku juga nggak ngerti kenapa pahit, maafin ya say…..” ujarku lembut
“ya udah, laen kali beli di pasar aja!”
Keesokan harinya, aku langsung tanya Mbak Dam, tetangga depan rumah yang udah jago masak. *Naaaah lho, ternyata aku nggak tahu cara ngolah daun singkong, yang bener tu,  aku harus rebus dulu baru di oseng ama bumbunya*
Eng—ing---eng---
Hari berganti hari, daun singkong yang muda pun siap untuk dipetik lagi sekalian cabe hijau yang udah siap ditumis bareng daun singkong. Racikan bumbu ala chef Nurul, sebagian dari hasil kebun sendiri,  dengan super pedas dijamin menggoyang lidah suamiku yang doyan pedas. Eits, pas masak aku diem aja. Aku diam seribu bahasa, nggak ngomong ke suami, aku takut kalau suami tanya diawal tentang daun singkong beli dari mana, ia bener-bener kapok dan nggak mau nyicip sekalipun kalau daun ngambil di pekarangan. Katanya sih, sayuran di belakang rumah nggak layak konsumsi karena kurang perawatan.
Sarapan osengan daun singkong telah terhidang,
“Ini daun singkongnya beli di pasar, kan?” tanya suami
Aku diam pura-pura tak mendengar, aku alihkan dengan nyala air kran. Dalam hatiku, semoga suami suka, aku kan udah ngolah daun singkong itu dengan benar, persis apa yang disampaikan Mbak Dam, lagi pula udah pas rasanya dan nggak pahit

“Wuuuuuuiiiiih, Mantapz osengannya, ada ikan asin pula, cocok nih! ” komentar suami
Aku lega. Alhamdulillah. Entah kenapa setiap usai masak dan makan, aku selalu menunggu komentar suami, mengharap pujian atau kritikan. Biasanya sih, tingkatan nilainya begini
A.      Mantapz….JOS!
B.      Lumayan
C.      Kurang Asin….manis….pedas….
D.     Nggak enak
Berarti kan, kali ini osenganku dapet nilai A. Horeeeeee ^^
“Ayo tebak mas, tadi aku masak osengan itu, daun singkongnya beli dari mana?”
“Pasar, kan? nggak pahit dan enak” jawab suami
“Yeeee, salah lagi. itu tadi aku tadi beli dari pekarangan rumah, plus cabe hijaunya udah waktunya panen” kataku riang
“Wah, istriku hebat!”
Hehhmm…kalau udah begini, aku tersipu malu-malu mau, ups…mau nambah tanaman sayur lagi. Jadi, untuk beli sayur nggak usah beli di pasar, tapi beli di pekarangan yang bukan di bayar dengan uang, cukup dengan sapaan di pagi hari dengan menyiram dan memberi pupuk sesuai waktunya. Semoga konsisten, karenanya memasak jadi menyenangkan.