Gerabah dan Dua Tangan Kesabaran

Posted by
Tetanggaku Husnul, berumur 9 tahun. Sejak usia 2 tahun , ia sudah diasuh sang nenek. Saat itu, ibunya merantau jadi TKW di Malaysia. Meski sekarang ibunya sudah kembali ke Indonesia dan mengasuhnya, ia masih dekat dengan kakek dan nenek. Mbah Tri (nenek) bisa membuat gerabah, bahkan sang nenek juga sempat berjualan dengan mengajak Husnul.
Begitu juga dengan kakeknya, pernah bercerita tentang pengalamannya memanjat pinang dalam lomba ‘plorotan jambe’ acara merayakan kemerdekaan di desa, yang menang sang kakek, walau harus capek dan kotor kena kanji di panjatannya itu. Tapi bu, sang kakek sekarang sudah wafat.
          Ajaran sang kakek dan nenek selalu membekas,, Husnul menjadi anak yang tidak pernah menyerah dalam segala hal, termasuk membuat gerabah, aku takjub lho bu….. melihat anak seusianya udah bisa buat gerabah, rela berkotor-kotoran tiap hari membantu sang nenek, butuh kesabaran dan telaten, tiap pagi jam 6 ia udah siap di halaman rumah, pohon mangga lebat membuat rumahnya teduh tapi juga sering kotor jatuhnya daun kering. Menyapu dengan sapu lidi,mencuci,  sepertinya dia udah hafal rutinitas yang harus dilakukan, rajin. Tanpa harus disuruh. Terus pulang sekolah, jam 10.30 udah siap melanjutkan aktivitasnya membuat gerabah
          Oya bu, dari cerita ibu dan neneknya, Husnul memang anak yang ringan tangan, membantu siapa saja, spontan dan tak berfikir panjang. Awal mula, membuat gerabah pun ia latihan sendiri tanpa ada yang menyuruh dan mengajari, hingga sekarang bisa membuat sendiri. Ia mengumpulkan sebagian gerabah hasil buatannya yang menurutnya unik.
Membuat gerabah itu nggak mudah bu, serba kotor. Aku salut lho bu, untuk anak seusianya ‘mau’ menekuni pembuatan gerabah, ada kan anak yang ‘jijik’ dengan tanah liat? Kadang ada juga teman yang suka ‘memojokkan’ Husnul, mengolok-olok karena melihat Husnul membuat gerabah, “Yee, si Nul kayak nenek-nenek senengnya buat gerabah…yeyeye...” begitu kata temannya yang tidak suka dengan Husnul
Husnul tetap tersenyum, ia bahkan tidak malu ‘memungut’ kotoran sapi dengan kantong plastik di tangannya, dibutuhkan untuk proses pembakaran,  dia melakukannya dengan gembira. Bagi Husnul, dua tangannya memang diciptakan Tuhan untuk selalu bergerak, membantu dalam hal apapun, karena tangan sang nenek sudah tidak mampu lagi untuk melakukan hal yang berat.  Aku sempat terharu juga bu, zaman sekarang gerabah juga jarang dipakai, udah terkalahkan dengan bahan plastik. Tapi bagiku, gerabah punya nilai seni yang tinggi, kalau bukan Husnul siapa lagi ya bu yang bisa melanjutkan? Apalagi kalau suatu saat Husnul punya inovasi pengembangan gerabah, kan keren banget kan bu!
Suatu hari, Husnul menangis ke ibunya, dari ceritanya,  ia masuk tim dalam program sekolah yang diadakan dua tahun sekali, yaitu EMAS (Ekonomi Mandiri Siswa), di situ akan dibuka stand-stand usaha hasil kreatifitas siswa. Nah, dari kelasnya hanya 5 anak diikutsertakan masuk ke tim kakak kelas, karena Husnul masih kelas 3. Kebetulan, Dwi teman yang sering mengejeknya juga ikut, katanya sih si Husnul diledekin, si Husnul penjual Gerabah, saat itu bu, Husnul, ibu dan nenek berkumpul, menasehati Husnul sekaligus mempersiapkan dengan matang acara EMAS, karena akan ada undangan dari dinas pendidikan setempat.
Semangat Husnul sangat tinggi, mengalahkan rasa malu dan benci kepada temannya itu, ia bertekad untuk tidak mengecewakan tim, yang banyak dari kakak kelas, ia sangat berharap bisa mendapatkan piala bergilir EMAS. Masalah sakit hatinya pada Dwi pun hilang. Oya bu, pas hari dimulainya buka stand ada cerita dari ibunya, Husnul dan tim kehilangan banner stand yang bertuliskan “GERABAH UNIK DAN BERMANFAAT”, betapa sedihnya saat itu. Tapi Husnul menyampaikan ide unik kepada kakak kelasnya yang satu tim, untuk menghias taplak meja dijadikan ‘banner’ dengan modifikasi bunga-bunga.
Seminggu stand dibuka, waktu penilaian pun tiba, gembira sekali bu, yang juara adalah Husnul, tahu nggak bu kenapa? Salah satunya adalah diperlihatkan proses pembuatan gerabah yang disajikan pada saat pengunjung stand datang. Ternyata, Husnul bisa memetik buah dari kesabaran dan ketlatenannya selama ini, ehm…kebayang deh ketika dewasa kelak, semoga ia masih memegang nilai ini sehingga gerabah maupun barang seni lainnya akan tetap ada. Semoga menginspirasi…. 

*telah diikutkan dalam ajang lomba RINSO-Berani kotor itu baik