Sharing Club yes, Tawuran No!

Posted by with No comments
Akhir-akhir ini kasus  tawuran pelajar semakin menjadi, seakan menjadi budaya tiap tahun. Keterkaitan geng, alumni dan siswa baru dianggap sebagai akar permasalahan tawuran yang belum bisa terputus. Entah, apapun sebabnya, orang tua dan pihak guru punya tugas berat. Mentalitas yang dibangun sejak kecil akan berpengaruh besar pada ranah emosional yang terkontrol ketika remaja. Masa SMA memang sangat rentan, karena memasuki masa pencarian jati diri. kalau bukan kita sebagai orang tua atau guru mereka, siapa lagi yang akan menjadi benteng pengawasan?

Anak memang harus dibiasakan hidup bersosialisasi dengan teman dan lingkungan luar. Tidak apa-apa mereka membentuk sebuah ‘geng’ atau sebut saja club, yang bisa diarahkan ke hal yang positif, misalnya belajar bareng, kumpul bareng dan saling bersaing dalam peningkatan prestasi belajar. Di sekolah, bisa dibentuk sharing club dibimbing langsung oleh guru, dalam satu ‘club’ tak perlu banyak siswa, maksimal depalan siswa, sang guru punya tugas yang lebih dari sekedar menyampaikan materi, tapi ditekankan pada proses pendekatan secara psikologi misalnya sebagai tempat curhat tentang masalah apapun, yang lebih penting lagi adalah menjalin komunikasi secara intens via sms atau media sosial lainnya. Club ini bisa dikemas apik dan menjadi agenda rutin yang wajib diikuti siswa. Saya yakin, program bimbingan konseling pasti sudah ada, namun kadang siswa malu bertanya dan malu menyampaikan apa yang ia inginkan. Ada juga, program ekstrakulikuler di sekolah, menekankan pada pengembangan bakat dan hobi, tentu sangat berbeda dengan usulan saya tadi, sharing club. Sebuah ‘geng’ yang menjadikan siswa lebih menghargai arti persaudaraan  dan perjuangan mengejar cita-cita.


0 add comment:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.