Penitipan Anak Bisa Menjadi alternatif

Posted by with 3 comments

Membaca tulisan Mb Ririn Handayani, yang berjudul “Ketika Anak Lebih Mencintai Pembantu daripada Ibunya”, lebih lengkapnya di sini, ikut terbawa ‘kegamangan’ tersendiri,  dalam mengambil solusi. Ibu bekerja, anak dititipkan siapa?

 

Memiliki pembantu yang tinggal serumah atau hanya saat si ibu bekerja, menjadi pilihan. Sang pembantu seperti menjadi bagian dari keluarga. Mengerti karakter, kebiasaan, dan pola hidup si pembantu, jadi modal seorang ibu untuk mengarahkan sekaligus membuat kesepakatan tentang kedisiplinan dalam rumah tersebut. Artinya, pembantu ‘mau’ atau ‘tidak mau’ harus menaati kesepakatan tadi termasuk pada pola asuh sang anak.

 Zaman sekarang, sulit juga mencari pembantu yang sesuai dengan hati, ehm…maksudnya? Yang sekaligus bisa di-create jadi guru. Hehe, aneh ya? Contohnya begini, si ibu membelikan buku-buku dongeng, mainan edukatif atau CD yang berkualitas dalam pembentukan karakter anak. Kemudian, saat jam-jam tertentu si anak diajari oleh si pembantu. *kalau kayak begini, si anak jadi tambah cinta pembantu dong! ^^

 

Wah, ada tugas berat di tangan si Ibu, seharusnya si Ibu punya waktu yang berkualitas untuk ‘mengambil’ hati si anak.

 

Saya punya teman, beliau seorang ibu dengan 3 anak yang beranjak remaja, sebagai pekerja kantoran di instansi perpajakan, banyak waktu yang habis digunakan untuk bekerja. Meskipun, ujian juga kerap hadir, tapi beliau berusaha konsisten untuk menjalankan peran sebagai ibu dan wanita karir. *keren euy….dari cerita beliau, waktu berkualitas begitu berharga untuk kedekatan anak-anak. Contohnya :

  • Si Ibu rela ijin keluar kantor, saat menjelang sholat Jum’at, hanya sekedar melihat sang anak, memandikan kemudian ‘mengajak’ sholat Jum’at, kebetulan sang ayah ditempatkan di kota yang berbeda.

  • Mendampingi anak belajar dan sebelum tidur, membacakan buku cerita.

  • Hari Sabtu dan Ahad memaksimalkan agenda untuk kegiatan bersama.  

  • Dan masih banyak lainnya, yang tidak beliau ceritakan ke saya

Setiap pilihan ada resikonya, bahkan Penitipan Anak

Selain menggunakan ‘jasa’ pembantu, seorang ibu yang memilih kerja di luar, juga bisa menitipkan anaknya ke penitipan anak. Di sini, sangat teroganisir, ada peraturan, ada penanggungjawab dan bisa dipertanggungjawabkan apabila ada yang ‘tidak beres’ dengan tingkah laku si anak.

 

Saat saya jadi guru, saya memilih ‘jasa’ ini. Aman, meski kadang juga tak tega, membayangkan anak-anak di penitipan nangis bareng saat dipamiti ibunya sebelum berangkat. Semua memang ada resikonya.

 

Dulu, di penitipan anak, anak saya sering sakit. 1 pengasuh memegang 3 balita bahkan lebih, mungkin ini bisa jadi penyebab, jika ada satu balita yang sakit, dan tidak terurus maksimal, yang lainnya gampang tertular.Senangnya, di sana anak saya tambah ‘berani’ dan percaya diri karena banyak teman dan mudah bergaul. Padahal, dulu pendiam lho!

 

Apapun pilihan ibu-ibu yang memilih bekerja diluar rumah. Jalani semua dengan bahagia, dan kemantapan hati, perbanyak do’a, barangkali dengan tindakan ‘abstrak’ seperti ini anak semakin cinta, asal tidak lupa memanfaatkan waktu berkualitas yang begitu berharga bareng anak-anak, kapan saja dan dimana saja, seriring waktu berjalan, anak akan mengerti dengan sendirinya,  Kenapa ibu bekerja di luar rumah, sembari berkata “ Mama, terimakasih atas segala cinta yang kau berikan”…….Happy Ending J

 

 

3 komentar:

  1. kerja dari rumah pun, aku sering merasa bersalah kalau udah nyuekin anak-anak :)

    BalasHapus
  2. wah, sama mb, kadang kalau saya kumat juga nyuekin anak2.*segera insaf deh

    BalasHapus
  3. Iya, benar sekali, yang penting memanfaat waktu benar-benar berkualitas saat bersama buah hati tercinta.

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.