Menuju Daerah Mandiri, Pabrik Gula ‘Serius’ Garap Diversifikasi

Posted by
Gula, bagi saya dan masyarakat Indonesia merupakan kebutuhan pokok dan sumber kalori yang relatif murah. Hasil pengolahan tebu ini bahkan menjadi salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Tak ayal, keberadaan Pabrik Gula (PG) di beberapa daerah ternyata juga mampu menopang kehidupan ekonomi daerah setempat. Mulai dari petani, karyawan pabrik gula, tenaga tebang, sopir angkutan, penjual makanan dan berbagai profesi lainnya. Sebenarnya, pabrik gula memiliki ‘magnet finansial’ yang luar biasa dalam mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD), bahkan menjadikan daerah lebih mandiri.

Selain memproduksi bahan baku tebu menjadi gula kristal, masih ada lebih dari 50 produk diversifikasi berbasis tebu yang telah dikembangkan di berbagai negara, seperti asam amino, vitamin, asam-asam organik, biodegradable plastic, biopulping, biobleching, dan lain-lain. Namun, ada juga produk turunan yang berpotensi untuk dikembangkan secara komersial oleh pabrik gula, seperti pemanfaatan limbah menjadi penghasil listrik, sumber makan ternak berserat, bata abu tebu.

Akhir-akhir ini, informasi terbaru yang saya dapat, ada sebuah penelitian anak SMA di Madiun yang menyabet medali emas dalam Olimpiade Proyek Lingkungan Internasional (INEPO) di Istambul, Turki. Yakni, mengenai pemanfaatan limbah abu asap pabrik gula, untuk pembuatan batu bata  tahan gempa. Fantastis, bukan?

Sudah saatnya, pabrik gula ‘serius’ melakukan diversifikasi, tidak hanya mengurangi risiko produksi di bisnis tebu seperti biaya produksi yang terus meningkat atau fluktuasi harga gula dunia, namun juga diharapkan lebih fokus pada perekonomian lokal.  

Cermin PG Ngadirejo dengan Strategi EDO
Monumen Tebu Emas PG Ngadirejo Kediri
Sebagai masyarakat Kediri, saya turut gembira dengan diraihnya predikat tertinggi kinerja Pabrik Gula Ngadirejo Kediri, milik PTPN X dalam pencapaian rendemen (kadar gula) untuk pabrik gula di lingkungan BUMN se-Indonesia pada tahun lalu.

Saya yakin, rendemen yang tinggi didapatkan dari tanaman bermutu baik dan ditebang pada saat yang tepat. PG Ngadirejo memakai sistem "core sampling" untuk meningkatkan kualitas sistem penilaian, dengan menggunakan peralatan "core sampler" seharga lima miliar rupiah. Biaya yang cukup tinggi untuk sarana pengolahan tebu, tentu akan menghasilkan gula yang berkualitas pula. Disana, contoh tebu yang masih berada di truk diambil dan selanjutnya dikirim ke Laboratorium Analisa Rendemen PG. Diharapkan, proses ini lebih transparan dan kredibel, sehingga petani semakin percaya dengan pabrik. Bahkan, terus dilakukan perbaikan "on farm" (pengolahan kebun) dan "off farm" (pabrik) untuk mendukung peningkatkan kinerja.

PG Ngadirejo berusaha menerapkan strategi EDO (efesiensi, diversifikasi, dan optimalisasi), guna mengatasi masalah terjadinya inefisiensi produksi gula. Membuat terobosan dengan memanfaatkan ampas tebu menjadi energi listrik sekaligus mengoptimalkan kapasitas giling. Selama ini, ampas tebu lebih banyak dikirim ke pabrik kertas sebagai bahan baku seperti PT Tjiwi Mojokerto dan pabrik kertas Leces Probolinggo. Namun, saat ini pengiriman berkurang karena pebrik kertas lebih dominan memakai kertas bekas sebagai bahan baku.

Program diversifikasi ini  dirintis sejak tahun 2011, ampas tebu yang dihasilkan PG Ngadirejo Kediri rata-rata sekitar 19.88 kuintal per hari dimanfaatkan untuk keperluan bahan bakar di ketel pabrik, dan masih terdapat sisa sampai sekitar 4.340 kuintal per hari. Jumlah ini nantinya diakumulasi dan diubah menjadi energi listrik lewat program co-generation.  Program ini juga ditujukan untuk menjaga lingkungan. Karena, beberapa sumber untuk energi tidak bisa diharapkan keberlangsungannya, seperti batu bara atau sumber energi lain yang tentunya bisa habis. Tebu bisa menjadi sumber energi alternatif yang terbarukan.

Salah satu faktor yang membuat kinerja PG Ngadirejo menggeliat pada 2012 adalah konsistensi dalam penerapan budi daya tanaman tebu. Sekaligus tengah melakukan diversifikasi produk di luar komoditas gula, dengan bertransformasi menjadi industri berbasis tebu dan terus menjalankan program efisiensi. Kini, diversifikasi bisnis listrik PG Ngadirejo masih menghasilkan 2 MW, berharap bisa mengejar NSL Sugars Limited dan Bannari Amman di Karnataka State yang sudah mampu menghasilkan listrik 30 MW dan etanol 120 kiloliter per hari.
 
PG : Mendulang PAD menuju kemandirian Daerah
Semakin tinggi kinerja PG-PG PTPN X, dampaknya semakin besar pada ekonomi lokal. Terlebih jika memiliki ‘aneka’ produk diversifikasi tebu, tentu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dikarenakan, semakin bertambahnya pajak daerah dan retribusi yang dibayar PG, penyerapan tenaga kerja membesar. Dan Multiplier effect, seperti kenaikan permintaan sejumlah barang dan jasa, mulai dari kuliner, wisata factory tour pabrik tebu, properti, dan lainnya yang berbasis pada pabrik gula.

Seperti PG Ngadirejo Kediri, proyek `co-generation` mampu menghasilkan listrik sebesar dua megawatt dan bisa dijual kepada PLN. Dengan adanya rencana ini tentu akan menambah daya, digunakan untuk mengaliri listrik ke beberapa dusun di kabupaten Kediri yang belum teraliri.

Pemerintah Daerah juga harus mendukung penuh adanya berbagai diversifikasi produk PG melalui kebijakan, permodalan maupun segala bentuk perizinan. Seperti halnya, izin untuk pengelolaan co-generation PG Ngadirejo Kediri sudah diajukan pada Pemkab Kediri untuk mendapatkan IUKS (Izin Usaha Kelistrikan Sendiri). Yang tidak kalah penting bagi PEMDA adalah menghilangkan pungutan-pungutan ‘liar’ supaya tidak ada hambatan perdagangan dan arus komoditi antar daerah.

Cermin Dukungan Pemerintah Brazil
Brazil merupakan salah satu negara penghasil gula yang mempunyai sejarah paling panjang, yaitu sekitar lima abad. Satu hal lagi yang menjadikan industri gula di Brazil sangat efisien adalah industri pengolahan tebu seluruhnya dikelola oleh swasta. Pondasi yang cukup kokoh tersebut diperkuat oleh dukungan yang sangat besar dari pemerintah, seperti pembangunan infrastruktur (transportasi, irigasi, pergudangan dan pelabuhan) serta kredit usaha bagi pelaku agribisnis.

Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya berupa daratan, pemerintah Brazil sangat serius dalam membangun sarana perhubungan darat, khususnya jalan raya. Jaringan irigasi bawah tanah yang dibangun oleh pemerintah sangat membantu petani dalam melaksanakan budidaya tebu pada saat kemarau. Sementara sarana pergudangan dan pelabuhan ekspor yang memadai memudahkan bagi eksportir untuk melakukan mobilitas barang ke pasar internasional.

Dukungan kebijakan lain yang cukup penting adalah penyediaan kredit usaha dengan bunga yang relatif rendah. Pemerintah Brazil menyediakan bantuan kredit kepada petani maupun pengusaha gula dengan tingkat suku bunga kredit yang lebih rendah dari suku bunga pasar. Kredit yang disalurkan oleh Bank Nasional untuk Pembangunan Sosial dan Ekonomi (BNDES) untuk menunjang agribisnis gula, suku bunganya berkisar antara 11-12 persen, cukup rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga pasar yang mencapai 26 persen.

Dalam budidaya tanaman tebu, dukungan kebijakan adalah tersedianya bibit unggul tebu yang dapat diakses oleh petani dengan mudah. Pemerintah Brazil mengembangkan teknologi budidaya tebu melalui lembaga The Brazilian Agriculture Research Corporation, suatu badan di bawah Kementerian Pertanian yang bertugas melakukan berbagai penelitian dan pengembangan dalam bidang bio-teknologi pertanian.

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam proses diversifikasi pabrik gula ini, sudah saatnya bagi pemerintah dan para pelaku agribisnis gula serius mengembangkan sistem dan usaha agribisnis yang efisien, berdaya saing dan saling menguntungkan antara petani tebu, pabrik gula dan pelaku perdagangan.

Meretas kemandirian bangsa melalui PTPN X
Tahun 2013, bagi PTPN X merupakan masa “golden age”. Banyak harapan dan semangat baru yang mulai dijalankan. Salah satunya, menggarap industri hilir tebu dengan membangun proyek pengembangan bioetanol di Pabrik Gula Gempolkrep, Mojokerto, Jawa Timur. Proyek ini digarap bersama New Energy and Industrial Technology Development Organization Jepang.

Pada Februari 2013, proyek akan diterminasi sebelum resmi beroperasi. Pabrik akan menghasilkan etanol fuel grade dengan tingkat kemurnian 99,5 persen. Pengembangaan bioetanol adalah bagian dari diversifikasi usaha dan upaya mewujudkan industri berbasis tebu Bioetanol dipilih karena merupakan energi alternatif yang sangat berguna di tengah makin mahal dan terbatasnya energi minyak bumi. Pengembangan bahan bakar nabati, seperti bioetanol, sejalan dengan upaya negeri ini untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.

PTPN X sebagai ‘market leader’ industri gula nasional, mengawali sebuah keteladanan. Berawal  dari 11 pabrik gula yang tersebar dibawah naungan PTPN X diantaranya PG Cukir,  PG Gempolkrep, PG Jombang Baru, PG Krembong, PG Lestari, PG Merican, PG Mojopanggung, PG Ngadirejo, PG Pesantren Baru, PG Tulangan,  PG Watu tulis. Menuju Indonesia mandiri tidaklah sulit, jika selalu berinovasi pada produktivitas dan diversifikasi produk tebu serta berusaha memaksimalkan peran pada daerah setempat, untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat luas.