Raih Masa Depan Berkah Dengan Asuransi Syariah

Posted by
 ‘Nak, Masa depan itu tak pasti!’  
Dibalik ketidakpastian itu, kita harus berani bermimpi, berencana dan berdoa
Begitulah pesan Ayah, saat saya masih duduk dibangku SMP.

Dari tahun ke tahun, kehidupan berjalan begitu dinamis, disertai pesatnya kemajuan teknologi kini telah mempengaruhi tren kebutuhan kehidupan sosial kita sekarang, salah satunya adalah kebutuhan asuransi. Mengapa?

Sebab, adanya hubungan antara kebutuhan dan ketidakpastian masa depan menjadi pemicu keinginan manusia akan perlindungan, rasa aman dan tenang. Asuransi pun jadi pilihan. Bahkan, banyak masyarakat Indonesia sudah merasakan fungsi asuransi seperti kesehatan, kecelakaan, kematian dan lain-lain.

Saat ini, kesan tentang asuransi hanya cocok untuk orang kaya semakin bergeser. Asuransi di zaman modern juga dibutuhkan hampir semua pekerja, buruh, karyawan, tentara, pegawai negeri yang secara otomatis, kesehatan mereka telah diasuransikan ke Astek, Askes, Jamsostek, dan Asabri. Hanya saja, masyarakat tidak tahu bahwa itu sebetulnya menggunakan mekanisme asuransi.

Saya pun juga sudah merasakan keuntungan asuransi kesehatan yakni Askes, sejak 3 tahun lalu. Tak hanya kesehatan, asuransi sekarang sudah menjadi kebutuhan baik untuk jiwa, pendidikan, harta benda dan lainnya.

Antara, asuransi konvensional dan asuransi syariah


Para ulama dan pakar syariah awalnya ragu akan sistem bunga pada perbankan, tak terkecuali asuransi. Kemudian, mereka berfikir keras mencari solusi,  agar hal-hal yang haram dalam praktek asuransi konvensional itu dihilangkan. Sebagai penggantinya adalah asuransi syariah atau asuransi "takaful"
 
Banyak yang berfikir, asuransi konvensional dan asuransi syariah itu sama saja, hanya berbeda pada label ’syariah’. Nah, berikut beberapa perbedaan keduanya yang disampaikan oleh pakar asuransi syariah, Muhammad Syakir Sula [1]

No.
Prinsip
Asuransi Konvensional
1.
Unsur “Maghrib” (Maisir/judi, Gharar, dan Riba)
Ada
Tidak ada
2.
Akad
Akad jual beli
Akad Tabarru’ dan akad Tijarah
3.
Jaminan/risk
Transfer of Risk, terjadi transfer resiko dari tertanggung kepada penanggung
Sharing of Risk, terjadi proses saling menanggung antara peserta satu dengan lainnya.
4.
Pengelolaan Dana
Tidak ada pemisahan dana, yang berakibat danan hangus (produk saving life)
Ada pemisahan dana (dana tabarru dan dana peserta) tidak ada dana hangus.
5.
Kepemilikan Dana
Dana yang terkumpul dari premi peserta seluruhnya jadi milik perusahaan bebas menggunakannya
Dana yang terkumpul dalam bentuk iuran merupakan milik peserta, asuransi syariah sebagai pemegang amanah dalam mengelola dana tersebut
6.
Sumber Pembayaran Klaim
Sumber biaya klaim dari perusahaan, sebagai konsekuensi penanggung terhadap tertanggung. Murni bisnis
Sumber diperoleh dari rekening tabarru, yaitu peserta saling menanggung, jika satu peserta dapat musibah, yang lain menanggung resiko
7.
Sistem Akuntansi
Konsepnya accrual basic, proses akuntansi  mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan non kas. Dan, mengakui pendapatan, peningkatan asset, expenses, liabilities dalam jumlah jumlah tertent yang baru akan diterima dalam waktu yang akan datang
Konsepnya cash basic, mengakui apa yang benar-benar telah ada , accrual basic dianggap bertentangan syariah karena mengakui adanya pendapat, harta, beban atau hutang yang akan terjadi di masa akan datang. Hanya Allah yang tahu

Sebenarnya masih banyak lagi perbedaannya, mulai konsep, asal-asul, misi dan visi, sumber hukum dan lain-lain. namun, ke-7 prinsip diatas yang saya anggap bisa mewakili jawaban dari ‘kebingungan’ pembaca. Ingin jelas lagi? anda bisa langsung mengunjungi lembaga asuransi syariah atau unit-unit syariah terdekat, kini sudah menjamur di berbagai daerah

Tak kenal maka tak sayang, yuk… melek asuransi syariah
Menghindari hal-hal yang bersifat riba itu wajib bagi masyarakat muslim, ini juga mendorong pertumbuhan berbagai macam produk keuangan syariah termasuk asuransi syariah (takaful). Tak hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarga, sebenarnya berasuransi juga sangat penting dijalankan oleh pebisnis dalam rangka menanggulagi risiko kerugian pada aset-aset usahanya.

Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), asuransi syariah diartikan sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ -- adalah sejumlah uang yang diikhlaskan oleh Peserta (Tertanggung) untuk keperluan tolong menolong apabila peserta lain mengalami suatu musibah yang dipertanggungkan. 

Praktek sederhananya, misal saya sebagai peserta asuransi syariah, dalam istilah syariah saya disebut sebagai Muamman, sedangkan perusahaan asuransi disebut dengan Muammin. Selayaknya memulai sebuah asuransi, saya sebagai nasabah mengadakan kontrak dengan perusahaan asuransi. Pada dasarnya asuransi syariah dan asuransi konvensional mempunyai tujuan sama, yaitu pengelolaan atau penanggulangan risiko. sebelumnya, sudah saya tulis perbedaan keduanya

Kini, banyak produk asuransi syariah telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat menjadi alternatif produk asuransi konvensional, misalnya:
1. Asuransi keluarga : asuransi beasiswa, pendidikan, kredit (pembiayaan), keluarga berkelompok dan lain-lain
2. Asuransi umum  : asuransi kendaraan bermontor, kecelakaan, laut dan udara dan lain-lain

Dari sekian banyak perusahaan asuransi syariah, mereka memiliki beragam produk yang inovatif, bahkan sekarang ada produk micro insurance yang pangsa pasarnya sangat besar dan sama sekali belum tergarap, yaitu asuransi yang ditujukan untuk tukang cendol, tukang combro, pedagang kaki lima, sektor informal, petani, pedagang kecil, dan lain lain. Produk ini sedang dikembangkan teman-teman di beberapa kabupaten di Jawa Barat, namanya Asuransi Takmin. Ini produk inovatif untuk masyarakat tingkat bawah.[2]

Bukan hanya umat Muslim yang merasakan keunggulan asuransi syariah, di dunia sekarang ini ada sekitar 200 asuransi syariah, umumnya mereka menyebut dengan nama asuransi takaful atau islamic insurance. Hanya, Indonesia yang menyebut dengan asuransi syariah. Takaful justru lebih banyak di negara-negara non muslim, seperti Luxemborg, Singapure, Australia, United Kingdom, Sri Langka, USA,  dan sebagainya.

Selain itu, negara-negara seperti Singapura, Hongkong dan Inggris dengan Loyyd, ingin menjadi hub sharia business. Mereka berlomba-lomba menarik investor Timur Tengah dengan membuatkan skim-skim syariah, dengan membuatkan regulasi yang memudahkan, termasuk kemudahan dalam aspek perpajakan.[2]

Satu hal yang paling penting bagi calon nasabah adalah memilih perusahaan asuransi syariah terbaik diperlukan ketelitian dan kehati-hatian, mengingat saat ini banyak lembaga keuangan berlabel asuransi syariah. Berikut tips yang sekiranya perlu diperhatikan:[3]
1.      Mengetahui Kebutuhan Berasuransi
2.      Memilih Pengelola Perusahaan Asuransi Syariah
3.      Kejelasan Akad Asuransi Syariah
4.      Pelajari Program dan Ilustrasi AsuransiSyariah
5.      Tarif Premi Asuransi Syariah
6.      Memilih Agen Penjual Asuransi Syariah

Hidup di era modernisasi, asuransi syariah menjadi salah satu jalan ‘ikhtiyar’ masyarakat muslim atau nonmuslim dalam meraih masa depan penuh berkah. Melirik Malaysia, pihak pemerintahnya mendukung pertumbuhan asuransi syariah dan masyarakat pun antri membeli produknya, ini bukti mereka telah merasakan manfaat nilai asuransi syariah secara signifikan. Memang benar kata ayah, masa depan itu tak pasti, setidaknya asuransi syariah menjadi ‘sarana’ saya, keluarga dan bisnis saya untuk menggapai impian yang berkah dunia akhirat.




Referensi :
  1. Wirdiyaningsih dkk. 2005. Bank dan Asuransi Islam di Indonesia. Kencana FE UI  
  2. Indonesia Kiblat Asuransi Syariah
  3. Memilih Perusahaan Asuransi