Odong-odong dan Cubitan

Posted by
Tadi malam, menikmati malam kamis di perempatan jalan raya. Seharian denger celotehan dan rengekan anak-anak bikin mood turun drastis. Suntuk banget. Berniat menuju ke Mina, salah satu swalayan terbesar di kecamatan. Tapi karena ada program hemat bulan ini, pasar tradisional harus jadi pilihan. 

Odong-odong, hiburan anak yang murah dan menarik jadi favorit saya, cukup membayar Rp 1.000,- sampai anak puas nangkring diatas ‘sepeda’ yang gerak jungkat-jungkit pelan. Di usia 1, 5 tahun Tya betah berlama-lama, menikmati lagu anak-anak sambil merasakan dinginnya malam, memanjakan mata dengan lampu kendaraan yang berlalu lalang.


Zam, tak mau kalah…ia lebih sering bergerak, ganti posisi duduk—ke depan, ke belakang. Sesekali senyum mengembang pertanda ia begitu senang. Bukan hanya Zam dan Tya, kebanyakan anak kecil di desa memang lebih menyukai odong-odong. Ya kurang lebih alasannya sama dengan saya.

Saat ini, masa pengasuhan Zam dan Tya bagiku berada pada masa sulit. Di tengah-tengah keceriaan selalu saja ada hal yang menyulut emosi. Minta ini-itu. Ini yang paling tidak saya suka kalau harus keluar rumah. Dan benar saja, jalan-jalan kali ini dengan amat menyesal, permulaan indah bersama odong-odong harus berakhir dengan cubitan, karena Zam tidak bisa diajak kompromi, “Maafkan ayah ibu, naaak” 

Pengasuhan….ada saatnya seorang ibu berada pada titik klimaks, tinggal sejauh mana emosi mampu dikendalikan, salah satunya dengan kecupan sayang dan bisikan doa, bukan pada cubitan.