Pesan Orang Tua dan Pertamax, “Teruslah Menebar Manfaat!”

Posted by with 1 comment
Saat menulis postingan ini, listrik dalam kondisi padam, untungnya baterai laptop masih full. Jadi, masih bisa lanjut nulisnya. Dalam kegelapan, saya hanya ditemani lampu hape yang memberikan penerangan, beda dengan zaman saya masih kecil, ibu selalu menyalakan dimar (lampu dari minyak tanah). Tiba-tiba saja, memoriku terlempar jauh belasan tahun lalu, ketika listrik padam begini, saya, bapak dan adik biasanya memilih bercengkrama di teras rumah menikmati padhang bulan.

Tak jarang, momen seperti ini dimanfaatkan bapak untuk bercerita dan berdendang, terselip wejangan tentang kehidupan, seperti, cerita hidup susah di masa kecil bapak, kisah nabi, perjuangan para pahlawan dan masih banyak lagi.

Yang tak terlupakan dari bapak tentang sawah dan sarjana


Tiap hari minggu atau waktu liburan sekolah, bapak sering mengajak saya ke sawah. Meski punya buruh yang menggarap tanaman, bapak mengunjungi sawah untuk sekedar kontrol, kadang juga turut membantu. Kesibukan beliau menjadi guru bukan lagi halangan untuk pergi ke sawah. Di sela-sela waktunya yang padat, bapak masih sempat mengantar sarapan untuk buruh yang kerja.

Saya suka menikmati perjalanan menuju sawah, melewati arus sungai yang jernih, lihat hamparan padi menguning, pohon bambu saling berebut menarik perhatian tatapan mata si pejalan kaki. Satu lagi, saya paling suka duduk di batu besar pinggir sungai, memancing dengan joran (gandar) yang terbuat dari bambu muda.

Sesekali menyaksikan bapak mashgul dengan aktivitasnya di sawah seperti, mencangkul, semprot pupuk, memasang ‘orang-orangan’ untuk mengusir burung perusak tanaman, atau menanam pohon di pembatas sawah. Hmm….seakan beliau mengajarkan saya, betapa kita harus peduli pada alam.

Dari sawah inilah, tumbuh bibit padi yang menghasilkan beras berkualitas, membuka lapangan pekerjaan bagi buruh tani dan yang lebih penting lagi, menjaga ekosistem alam. Dari sawah ini pula, bapak bisa menghidupi keluarga dan menyelesaikan gelar sarjana. Gelar yang cukup ‘wah’ untuk kalangan orang desa pada masa itu. Meski, bapak sudah berkeluarga dan punya anak dua, semangat dan ketekunan bapak tidak surut untuk menuntut ilmu, Bagi beliau, ilmu adalah alat untuk bisa bermanfaat bagi orang banyak.



Foto kenangan saat bapak diwisuda ^_^

"ah, bapak…jika kulewati pematang sawah, aku selalu teringat masa kecilku bersamamu, semoga di sisa umurku, aku bisa bermanfaat bagi alam dan orang lain”


Karena ibu, tempat kulakan mebel jadi obyek wisata

Mirip dengan bapak, ibu bukanlah anak orang kaya. Meski, hidup berkecukupan tapi karena punya anak banyak, tak ada satu pun saudara ibu yang bisa lulus sarjana. Apalagi ibu, beliau hanya lulusan SD. Namun, berbekal semangat dan keuletannya, ibu, kini menjadi juragan mebel di desa.


Kenangan merayakan ulang tahun adik, foto satunya ibu, sang inspirator
Saat masih duduk di bangku SD, saya jarang diajak bertamasya keliling kota kecuali ke Nganjuk, kota yang menjadi tempat kulakan dagangan mebel. Ibu, adalah womenpreneur yang keren. Di awal merintis usaha mebel ini ibu tak kenal lelah mencari uang tambahan mulai dari berjualan snack, kayu bakar, bensin, lampu atau alat-alat listrik, sprei dan terakhir adalah mebel.

Untuk menghemat pengeluaran, saya dan adik jarang diajak jalan-jalan saat liburan. Kecuali, tempat kulakan mebel. Di sana, saya juga dikenalkan dengan para bos mebel, secara terbuka pula transaksi jual-beli dagangan setengah jadi ini terlihat di depan mata saya. Dagangan yang kemudian diolah para karyawan di rumah kami dan dijual di desa kami.

Ibu juga berupaya keras menjadi manusia bermanfaat, mampu membuka lapangan pekerjaan bagi para pemuda dan keponakan, keuntungan dari hasil dagang selalu ibu sisihkan untuk agenda sedekah tahunan pada orang –orang desa, lebih tepatnya saat bulan Ramadhan. Secara pendidikan, ibu memang hanya lulusan SD tapi semangatnya berwirausaha, berani mencoba hal baru merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan keluarga dan orang sekitarnya. Dari ibu, saya belajar banyak tentang bisnis, saat SD saya sudah jadi ‘kolektor’, bertugas menagihi angsuran para pembeli, apabila pembelian dilakukan secara kredit.

Kini, masa childhood cuma bisa dikenang dan menjadi penyemangat dalam hidup saya, pesan menebar manfaat ternyata tak sekedar dilontarkan dengan kata orang tua namun lebih pada tindakan nyata.

Sejatinya, manusia memang diciptakan untuk bisa bermanfaat bagi kehidupan! Sebagaimana pertamax, bahan bakar minyak andalan Pertamina ini punya banyak manfaat, salah satunya Pertamax hadir sebagai pengganti Premix 98 karena terdapat unsur MBTE yang berbahaya bagi lingkungan.

pertamax, menebar manfaat untuk kita dan alam

Kemudahan menjangkau beberapa tempat dengan alat transportasi sudah bisa kita rasakan. Jika dulu, saya dan petani pergi ke sawah naik sepeda onthel, kini sudah tergantikan dengan motor. Bahan bakar yang dibutuhkan dari hari ke hari semakin melambung. Bukan hanya di kota besar, di desa pun motor sudah jadi kebutuhan ‘primer’. Tak ayal, polusi kendaraan pun akan berdampak pada lingkungan karena asap yang dihasilkan motor atau mobil adalah hasil pembakaran yang tidak sempurna berupa karbonmonoksida (CO). Dimana zat ini sangat berbahaya bagi makhluk yang ada di bumi.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang rugi? Pastinya kita dan lingkungan!


Sistem pernapasan kita akan terganggu, lapisan ozon di bumi semakin tipis, menurunnya kadar oksigen di bumi karena semakin bertambah jumlah gas karbondoksida yang tidak seimbang, dan terganggunya proses fotosintesis bagi tumbuhan (biasanya yang merasakan dampak ini para petani—bapak--)







Pertamax punya peran penting dalam hal ini yakni dapat mengurangi efek polusi timbal dari asap kendaraan. Sebagai bahan bakar yang sudah teruji ramah lingkungan, Pertamax memiliki kandungan timbal yang sangat sedikit dibanding bahan bakar jenis premium. Berarti, dengan menggunakan Pertamax, kita turut serta menjaga alam dan lingkungan.


Selain itu, menggunakan Pertamax juga memberikan manfaat untuk menyehatkan mesin motor atau mobil kita, performa mesin motor kita akan lebih meningkat, akselerasi tarikan lebih resposif dan busi tidak cepat ganti karena nilai oktan Pertamax lebih tinggi sehingga menghasilkan pembakaran lebih sempurna dan bersih. Satu hal lagi yang paling penting, manfaat Pertamax untuk bangsa ini adalah membantu pemerintah dalam mengurangi anggaran subsidi BBM.

Jadi, bersama Pertamax sebenarnya kita bisa menebar manfaat dengan menggunakan Pertamax (bahan bakar non subsidi) secara kontinyu.

Menebar manfaat itu butuh effort!


Berupaya menebar manfaat seumur hidup itu tidaklah mudah, menapaki jalur sustainability yang seringkali terbentur dengan kepentingan pribadi. Butuh effort yang luar biasa. Hal ini pun pernah terjadi pada kedua orang tua saya. Ternyata, resepnya adalah berpikirlah jangka panjang!

Karena hidup, tak melulu memikirkan diri sendiri, mengedepankan urusan pribadi atau keluarga. Bahkan, dengan ikut memikirkan orang lain, kita akan merasakan dampak kebaikan. Sama halnya dengan Pertamax, bahan bakar ini tidak akan bisa bermanfaat untuk alam dan generasi jika kita tidak menggunakannya.

Lagi-lagi, butuh effort, apa itu? Coba kita sisihkan anggaran tiap bulannya untuk pembelian Pertamax. Sejak harga BBM bersubsidi naik, kini harga Pertamax malah turun. Lebih kompetitif, lho? Sekali lagi, dengan beralih ke Pertamax berarti kita telah berinvestasi jangka panjang untuk anak cucu kita kelak!

Well, Kalau sudah begini, Pertamax haruslah gencar mengajak para pemilik kendaraan, mengedukasi dan terus mengkampanyekan penggunaan Pertamax. Adapun beberapa usulan terkait dalam hal ini;

1. Pertamax seharusnya jadi sponsor dalam kegiatan parenting. Sebagai wujud kepedulian pada masa depan alam, Pertamax punya tugas penting mengajak para orang tua Indonesia untuk mencintai lingkungan dari keluarga, karena berawal dari rumah, pesan-pesan orang tua mudah tersampaikan ke anak-anak melalui keteladanan.


2. Memilih Duta Pertamax dari pasangan suami-istri, misalnya sosok ayah, bunda yang telah berhasil membawa anak-anak mereka mencapai prestasi di tingkat nasional dan internasional.


3. Memberikan voucher Pertamax secara gratis plus stiker yang bertuliskan "Bangga pakai Pertamax" untuk sosialisasi saat bertepatan memperingati hari-hari spesial, misalnya hari keluarga nasional pada tanggal 29 Juni, hari anak nasional pada tanggal 23 Juli.


4. Memberikan award bagi ‘pahlawan’ yang telah mengabdikan separuh hidupnya untuk orang lain. Misalnya pengelola yayasan yatim piatu, pengusaha yang bisa menghidupi ratusan karyawan atau pekerja sosial di sebuah lembaga sosial. Karena, mereka tanpa pamrih dan telah memberikan manfaat bagi orang sekitar.

Bicara soal childhood di kehidupan saya, masih banyak lagi kenangan indah bersama bapak dan ibu, pesan moral yang mereka sampaikan pada tindakan, mengajari untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Kini, meski saya hanya menjadi ibu rumah tangga, saya mencoba untuk berbagi secuil wawasan bagi orang sekitar, yakni dengn mendirikan taman baca yang terletak di desa. Paguyupan sederhana ini semoga bisa bermanfaat untuk anak-anak tetangga, dan impian saya ke depan, taman baca ini bisa menjadi edu center yang melahirkan generasi berkualitas dari desa.

Menjadi manusia bermanfaat tidaklah sulit, hanya dengan mewujudkan kepeduliaan, selalu berfikir jangka panjang dan berusaha konsisten. Anda pun bisa melakukannya. Salah satunya dengan menggunakan Pertamax yang dapat meminimalkan jumlah gas karbondioksida, dengan cara sederhana ini, kita bisa lho bemanfaat bagi alam dan lingkungan.^_^





tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog @PertamaxInd #ApaIdemu














1 komentar:

  1. keren mba, taman bacanya. Barakallahu. Hebat, menebar manfaat untuk sesama. Semoga menang ya :-)

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.