Spionase Bisnis

Posted by with 4 comments
Beberapa hari yang lalu saya dan suami meeting, pertemuan yang dibuat formal padahal tempatnya di ruang keluarga (sambil lihat tivi juga). Hihi… tak apalah, namanya juga pembisnis pemula yang lagi ngorek keberuntungan di usaha UKM (Usaha Kecil Menengah). Mengapa saya lebih tertarik di jalur ini? karena modal usaha kecil, melibatkan banyak pekerja, bisa mengurangi jumlah pengangguran, meski skala usaha kecil saya berharap suatu saat omsetnya bisa mencapai milyaran. Aamiiiin (pengen banget nih bisa naik haji bareng orang tua)

Postingan lusa kemarin, saya pernah menulis soal ‘sabar’ dalam bisnis. Maksudnya, kalau memang pilih bisnis, jangan keburu akhiri bisnis. Sekecil apapun itu, jalani dulu saja. Biasanya umur bisnis yang bisa dikatakan bagus minimal tiga bulan. Jika dalam tiga bulan tersebut laba sudah kentara, siapin strategi marketing lainnya. Nah, kalau sudah lebih tiga bulan, misalnya setahun. Coba lirik bisnis lain, yang bisa kamu lakukan kemudian terapkan ilmu spionase bisnis.

Kekuatan Spionase

Spionase artinya mata-mata. Sekecil apapun informasi yang kamu dapat, pasti akan berguna untuk menjalankan usaha ke depan. Dalam kitab Perang Sun Tzu yang cukup legendaries, Sun Tzu menekankan pentingnya kekuatan intelijen, jadi penguasaan informasi itu penting banget. Selain kualitas produk, yang tidak kalah penting dalam bisnis UKM adalah srategi pemasarannya. Jangan pernah anggap sepele, orang jualan krupuk, camilan roti atau minuman kemasan yang ada dipasar lho, teman. Bisnis seperti pertempuran, kalau ingin sukses ya harus faham strategi memenangkannya. (saya masih juga belajar mengamati ‘pasar’)

Ilmu Spionase ini saya pelajari dari suami dan tokoh pengusaha muda dari Thailand, Top Itthipat dalam film billionare. Hahaha, pas lagi di lapang saya sering ngebayangin kalau saya ini mirip si Top yang suka blusukan ke pasar. Serrrru abis!

Nih, saya ceritakan secuil pengalaman saya saat mengasah kekuatan spionase bisnis. Ketika melewati jalan raya, saya kerap mencium aroma kue kering yang dulu pernah saya buat, kue kacang. Saban hari pulang pergi dari tempat mengajar, hidung, mulut dan perut terasa kompak pengen ngicip kue tersebut. Tengok kanan kiri, nggak ada plang atau banner terkait produk kue. Deretan rumah terlihat biasa, sama seperti rumah lainnya, tidak ada tanda-tanda ada pabrik kue.

Rasa penasaran, menggoda saya untuk turun dari sepeda motor dan menelusuri sumber aroma kue kering itu. “Bu, di sini apa pabrik roti, ya?” tanya saya pada salah satu orang yang berada di teras rumah. Dan, ternyata jarak satu rumah adalah tempat pembuatan kue kacang “TIDAR” yang sudah dikenal masyarakat Kediri. Saya pun memberanikan diri masuk ke dalam pabrik meski nggak jelas tujuannya apa. Pura-pura beli kue, hanya dua kotak seharga Rp. 2.750,- per kotak. Sambil icip-icip di tempat kasir, saya coba lakukan pendekatan dengan kasir, rentetan pertanyaan tentang usaha ini pun mengalir.

Mulai dari jumlah karyawan, proses produksi dan pemasaran. Nah, karena si kasir ini bukan owner-nya gampang banget nyari informasi. Saya pun langsung minta izin jalan-jalan mengamati aktivitas para pekerja, tak lupa ambil kamera digital, jempret ibu-ibu pekerja yang masygul nge-packing, nyetak, dan ngolesi telur ke kue. Aih, asyik banget punya usaha beginian. Bakal nggak ada ibu-ibu pengangguran. Bisa bantu suami cari duit, apalagi pekerjaan ini mudah dilakukan tanpa title sarjana.

Obrolan demi obrolan dengan si kasir berlangsung sekitar 10 menit. Ups, juragan kue yang ada di kantor depan rupanya menaruh curiga. Saya sok cuek (padahal deg-degan juga sih, kok main nylonong aja. Hihihi). Saya pun kena semprit, dipanggil sang juragan. Oh, terus gimana nih?

Nggak kehabisan akal, saya pun berlagak seperti wartawan dan guru (memang guru yang saat itu lagi free, tempatnya juga dekat dengan tempat ngajar). Saya dipersilahkan duduk di kantor, berhadapan langsung dengan sang juragan. Saya langsung nodong saja, “kalau tempat ini dikunjungi siswa SMP bisa apa nggak? Untuk program study visual terutama pelajaran kewirausahaan”. Alasan ini terkesan mendadak, tapi toh tetep ada benarnya karena sekolah saya punya program tahunan mengunjungi pabrik. Jadi, sah-sah saja.

Sang juragan agak tertutup. Ternyata, tidak diperbolehkan karena karyawan harus focus kerja. Kalau banyak siswa yang datang bisa mempengaruhi produktivitas. Okey, ya sudahlah, gak papa kok pak!

Dari informasi karyawan, resep kue hanya diketahui sang juragan. Karyawan hanya terima jadi, memproses adonan saat jam kerja dimulai. Perjalanan bisnis kue kering ini sudah berusia 24 tahun, jumlah karyawan hampir 60 orang, kebanyakan ibu-ibu rumah tangga berasal daerah sekitar. produk kue kacang ini sudah banyak penggemarnya, sales yang ngambil juga puluha. Tak heran jika kantor, ruang tamu penuh dengan kue-kue yang siap kirim. Meski hanya satu jenis kue, pabrik rumahan ini sudah bisa ‘menghidupi’ puluhan karyawan. Kini, pabrik ini melebarkan bisnis souvenir nikah khas kue kacang dan tas kain yang diproduksi di tempat lain. Ah, benar-benar seru, teman. Semoga bisnis saya ke depan mengikuti jejak perusahaan ini.

Bagaimana, ingin mulai berbisnis? Coba kuasai dulu kekuatan spionase? Segera tentukan target awalmu!



4 komentar:

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.