Kelud-kelud Pasir

Posted by
Tiga hari yang lalu, gunung Kelud meletus. Dari baca judulnya, mungkin temen-temen pada bingung, ya? Kok kelud-kelud pasir? Kelud berasal dari bahasa Jawa yang artinya membersihkan. Jadi selama dua hari ini, saya dan para tetangga juga masih sibuk membersihkan pasir kiriman Kelud.

Sehari sebelum meletus, Kelud masih siaga 3. Saat suami ke sana, masih banyak para petani yang bercocok tanam meskipun lokasi desa tersebut hanya berjarak radius 10 m dari puncak Kelud. Belum ada tanda-tanda yang tampak kalau beberapa jam lagi akan meletus. Begitulah kelud, selama 4 kali meletus selalu suka bikin kejutan. Tahun 1901, 1919, 1990 (waktu saya masih kecil, usia 4 tahun) dan kini tahun 2014. Pihak PVMBK sulit memprediksi dengan pasti.


 
Tahun 2007, saya pernah jadi relawan di sana. Dua minggu, status siaga. Nyata-nyata si kelud nggak jadi meletus. Malah muncul kawah baru. Mungkin ini yang bikin magma terhambat keluar. Alhamdulillah, tahun ini sedikit lega karena Kelud sudah meletus. Karena kalau nggak jadi meletus lagi, yang repot warga Kediri dan sekitarnya, selalu dihantui bayang-bayang bencana, ya kan? Jadi, kami ikhlas dan memang jauh-jauh hari udah siap menghadapi. 
Abu vulkanik di halaman rumah

Lokasi sekitar Kelud memang padat penduduk. Secara kearifan lokal, warga sekitar sangat memahami karakter si Kelud, belajar dari letusan-letusan sebelumnya. Nggak heran, kalau makin lama makin berkurang jumlah korbannya. Eh, tapi karena ketinggian Kelud 1.730 meter dari permukaan laut. Dampak letusannya tidak hanya terasa di Kediri, Blitar, Malang dan sekitarnya. Namun juga di daerah lainnya seperti Kebumen, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, pacitan, Tulungagung, Solo, Madiun, Yogyakarta, Sukoharjo, dan Ciamis.
Hujan abu vulkanik yang terjadi juga membuat sejumlah penerbangan di tiga bandar udara yakni Juanda Surabaya, Adisumarno Solo, dan Adisutjipto Yogyakarta tertunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan. 



Saat Kelud meletus, saya tidak tahu cerita detilnya. Karena rumah saya lumayan jauh dari puncak Kelud. 50 km dari puncak. Sore hari sebelum letusan itu terjadi, hujan begitu deras. Gelegar petir bersahutan. Tak ada firasat sedikit pun Kelud bakal meletus beberapa jam lagi karena statusnya masih siaga 3. Kata suami saya, yang masuk tim evakuasi masih belum ada instruksi dari pimpinan. Malah pada disuruh turun lagi?


 
Malamnya, Kamis pukul 22.50. Ada suara kayak mercon. Tapi samar-samar, ehm kedengaran kayak suara petasan (karena rumah saya jauh mungkin, ya). nggak bisa membayangkan gimana kondisi sana dengan evakuasi dadakan dibarengi dengan muntahan material dari Kelud. Kalau yang jaraknya jauh mungkin hanya hujan abu tapi kalau dekat ya hujan kerikil dan batu. Astagfirullah….

Jumat (14/2/2014), 3 jam pasca letusan, sekitar pukul 01.00 pagi hari, orang-orang sekitar sudah pada bangun. Kalau saya lebih memilih di dalam rumah, melihat kabar terkini Kelud dari berita malam televise. Jarak rumah saya dari puncak Kelud sekitar 50 km jadi masih aman. Namun, hujan abu di daerah saya cukup lebat, pasir-pasir lembut masuk lewat celah-celah genteng. 


Usai subuh, hujan abu belum juga reda. Padahal, halaman rumah saya udah penuh pasir dengan ketebalan 5 cm. pohon-pohon banyak yang tumbang, nggak kuat nahan abu vulkanik. Genteng rumah tetangga semua putiiiih, berasa kayak di Eropa lagi musim salju. Hihihi…bener loh, Azzam, anak saya yang berusia 5 tahun. Jingkrak-jingkrak kegirangan karena dia kira beneran salju (kayak di tivi-tivi tuh, buat gundukan salju). 


Saya dan para tetangga, gotong royong membersihkan jalan. Pasir-pasir tersebut kami kumpulkan untuk tambahan bahan bangunan. Inikah rejeki lain dibalik musibah? Saya berhasil mengumpulkan 12 karung, ada juga yang bisa ngumpulin sampe 1 truk, loh. Tergantung telaten atau nggak, karena masya Allah banyak banget. itu belum yang di atas genteng. 


Selama 4 jam berjibaku dengan abu vulkanik, saya baca di WA temen ternyata abu vulkanik berbahaya. Jika kena kulit bisa iritasi, kena mata bisa radang apalagi hidung? Bisa bersin-batuk dan sesak napas. “eeeehmmm…pantesan saat itu saya bersin-bersin terus. Seharian penuh hujan abu, sore harinya diguyur hujan air. Alhamdulillah, genteng, jalan, pepohonan jadi bersih tanpa harus kita yang membersihkan. Meski ini belum berakhir karena pasir-pasir lembut masih berterbangan kian kemari. Sampai-sampai, dalam makanan pun kecipratan pasir dari segala arah. Hehe 



Syukur Alhamdulillah, saya bersama keluarga masih di beri kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tanpa harus mengungsi dan memboyong barang-barang. Semoga, saudara-saudara saya yang ada di sekitar Kelud diberi kesabaran menjalani ujian ini. *jika tidak ada halangan semoga saya bisa berkunjung ke pengungsian bersama rekan dari IIDN. Karena jalanan susah dilalui dengan kendaraan bermotor.

Kelud,sampai kapanpun akan menjadi sahabat kami warga Kediri. Terbayang, keelokan-nya saat menjadi primadona obyek wisata. Hijau, sejuk, pesona kawahnya yang aduhai dan sejuta kebaikan lainnya untuk warga sekitar. We Love Kelud.