Gerakan Anak Bahagiakan Orang Tua (GABO)

Posted by
 “Saya ucapkan terimakasih bu Nurul, telah mengajak Dita seminar minggu lalu. Dita cerita banyak tentang GABO. Akhir-akhir ini, Dita berubah bu... makin rajin belajar, ibadah dan jarang marah”   (bunyi SMS Mamanya Dita, seorang siswi SMA di salah satu Kabupaten Kediri)

Terhenyak, ketika saya membaca SMS tersebut. Sebagai seorang ibu, saya bisa merasakan aura kebahagiaan itu terpancar. Melihat anak remajanya yang perlahan melakukan perubahan positif, usai Dita dan kawan-kawan mengikuti training motivasi yang diadakan GABO (Gerakan Anak Bahagiakan Orang Tua).

SMS yang dikirimkan mamanya Dita menunjukkan adanya respon positif orang tua terhadap eksistensi GABO, Pun banyak para pengajar dari tingkat SMP atau SMA se-karesidenan Kediri turut serta mendukung kegiatan positif komunitas GABO. Sebuah komunitas yang ingin memberikan kontribusi nyata mengajak generasi muda melakukan kegiatan positif supaya tidak terjebak dalam lingkaran ‘kenakalan remaja’ yang rentan mempengaruhi remaja Indonesia, baik yang ada di kota maupun desa.

Tidak bisa dipungkiri, saat ini tingkat persoalan kenakalan anak dan remaja telah memasuki titik rawan, bahkan mengarah ke kenakalan yang bersinggungan dengan hukum. Seperti, kasus perkelahian, minum-minuman keras, pencurian, perampokan, seks bebas bahkan narkoba.
Dalam mengatasi persoalan kenakan remaja, kita harus menelaah lebih jauh akar permasalahannya. Apakah dipengaruhi faktor psikis, genetik, lingkungan, keluarga, teman sebaya, tayangan audionvisual atau adanya ‘budaya’ setempat yang mengikat?  Menurut Kartini Kartono (1988 : 93) remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat,  sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat  sebagai suatu kelainan  dan disebut “kenakalan”.

Dari semua kenakalan diatas, yang paling berbahaya dan merusak generasi muda adalah pacaran. Karena remaja menganggap dalam berpacaran melakukan hubungan intim seperti ciuman, berpelukan, bahkan hubungan suami istri adalah hal biasa. Banyak  kasus hamil diluar nikah dan penderita HIV/AIDS adalah remaja usia sekolah SMP atau SMA. Hal tersebut terbukti dari data survey yang dilakukan oleh suatu lembaga survey bahwa 63 persen remaja diindonesia usia sekolah SMP dan SMA melakukan seks bebas dan 21 Persen melakukan aborsi.

Belum ditambah lagi dengan berbagai tayangan sinetron yang kebanyakan temanya adalah aktivitas pacaran dan berbagai macam akses media melalui sosial media. Berbagai seruan – seruan itu jelas makin memperparah perilaku seks bebas di kalangan generasi muda saat ini. Padahal tanpa itu pun seks bebas alias perzinaan sudah sedemikian banyak terjadi di kalangan generasi muda. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Dr. Julianto Witjaksono SpOG, KFER, MGO, pada  10/8/2014 mengatakan, 46% remaja berusia 15 – 19 tahun belum menikah sudah berhubungan seks (Tribunnews.com, 10/8/2014).  Akibatnya, banyak remaja yang hamil di luar nikah. Menurut data yang dipereroleh BKKBN, sebanyak 20,9% remaja di indonesia mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah (Okezone.com,13/2/2014)

Informasi terbaru tanggal 29 April 2015, kasus hamil diluar nikah, mahasiswi UPN Yogyakarta telah ditemukan tewas di dalam kos karena pendarahan hebat. Di usia nya yang ke-20 dan berstatus mahasiswa, perempuan muda ini telah menjalin hubungan dengan lawan jenis layaknya suami istri sebelum menikah.
 Sungguh ironis memang, ditangan remaja inilah masa depan bangsa Indonesia dipertaruhkan. Masa depan bangsa ada ditangan generasi mudanya.

Sketsa Pemuda Masa Kini
Saya tinggal di Desa Kedungsari, sebuah desa kecil di ujung barat Kabupaten Kediri Jawa Timur. Jauh dari keramaian kota dan hiruk pikuk keramaian. Dulu, desa ini jadi tempat yang ‘nyaman’, ketika saya masih kecil banyak para remaja yang senang meramaikan masjid atau mushola, ronda di pos kamling dan kerja bakti di setiap hari Minggu. Budaya gotong royong khas pedesaan pun sangat kental di waktu itu.
Pemandangan seperti dulu, sekarang mulai jarang tampak. Banyak remaja yang ‘gengsi’ melangkahkan kaki ke surau, tidak mau tahu tentang kebersihan desa. Jangankan agenda desa, sikap keseharian anak remaja kini jauh dari andhap asor (sopan santun).

Kuliah di luar kota selama bertahun-tahun seakan menenggelamkan saya pada kesibukan pribadi. Begitu selesai kuliah dan kembali ke kampung halaman, saya benar-benar terkejut melihat perkembangan pergaulan anak remaja yang ada di kampung kelahiran.
Sebagian anak remaja di sini sudah tergabung dalam geng motor. Dan usut punya usut ada ikatan secara nasional. Jadi, tiap malam minggu mereka akan konvoi hingga menjelang pagi. Bukan rahasia lagi, jika anggota geng motor identik dengan tindakan kriminalitas lainnya seperti minum-minuman keras, tawuran, seks bebas, pencurian dan tindak asusila lainnya.

Urusan sekolah terabaikan, bahkan kerap bolos sekolah.  Sungguh miris, kondisi seperti ini menyerang anak-anak muda di desa, bagaimana kondisi remaja yang ada di kota? Bisa jadi lebih parah karena pengaruh gaya hidup hedonisme atau individulistik. Meski tidak semua pemuda di desa saya demikian, pemuda yang tergabung dengan geng motor ini jadi mayoritas. Jika hal negatif ini diikuti oleh generasi berikutnya, apa yang akan terjadi dengan masa depan desa ini?
Pihak perangkat desa pun juga tidak mau tahu urusan anak muda. Karena, dalam proses pemilihan kepala desa selama ini adalah hasil pemilihan politik uang. Jadi, tidak heran jika inovasi program pedesaan nyaris nihil.  Di Kedungsari, tidak ada program desa yang melibatkan penuh anak muda. Ada pun program setahun sekali seperti memperingati 17 Agustus yang biasa diisi karaoke dan perlombaan seadanya. Apa yang terjadi di desa saya, mungkin terjadi juga di beberapa titik pedesaan dan perkotaan.

Memahami Karakteristik Remaja
Sebagian orang tua beranggapan, masa remaja kerap menimbulkan kekhawatiran. Masa yang paling rawan dalam tahapan usia. Bagi remaja justru sebaliknya, masa remaja adalah masa bersenang-senang. Merasa separuh dewasa, nasihat orangtua dan guru kerap diabaikan. Apalagi jika si remaja ini terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1.      Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2.      Ketidakstabilan emosi.
3.      Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4.      Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5.      Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6.      Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7.      Senang bereksperimentasi.
8.      Senang bereksplorasi.
9.      Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
      Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Banyak pemuda yang terlena dengan dunianya sendiri, lebih banyak waktu untuk bersenang-senang dan menyibukkan dengan aktivitas zero value seperti nongkrong di mall sambil menghabiskan nikotin (rokok), nge-game hingga lupa waktu, pacaran, tawuran, dan masih banyak lagi.
Pemuda sekarang nyaris kehilangan figur, kehilangan sosok teladan. Pemuda saat ini lebih nge-fans berat sama selebritis, daripada guru, pahlawan, pemuka agama, olahragawan atau para ilmuwan. Gaya hidup seleb jadi panutan. Mirisnya lagi, dunia hiburan jadi industri yang laris manis diburu  pemuda-pemudi. Mereka rela antri berdesak-desakan untuk nonton konser, menyanyi dan hanya bersenang-senang mengikuti alunan lagu yang dibawakan seleb idolanya.

Arus globalisasi pelan-pelan menggerus nilai spiritualitas dan nasionalisme para pemuda. Hilangnya nilai tersebut mengubah pola pikir anak muda.  Tidak heran jika anak muda sekarang, dengan ringannya mengatakan  “hidup itu buat hepi aja”. Tingkat kriminalitas yang dilakukan pemuda juga makin meningkat, seperti pencurian, narkoba, pemerkosaan, aborsi bahkan hingga pembunuhan. Emosi yang tidak stabil dan tidak ada sandaran ‘pegangan’ (agama) hidup inilah jadi pemicu para remaja melakukan hal-hal seenaknya sendiri yang penting hepi dan melampiaskan emosi tanpa kendali. Mereka lupa jika anak muda juga punya Tuhan, bukan hanya orang yang sudah menua.

Selain Spiritualitas, pemuda saat ini juga krisis nasionalisme, krisis identitas diri. Mereka mudah terbawa arus budaya dari luar, mengikis jiwa nasionalisme mereka. Munculnya gaya hidup hedonisme, alay dan apatis terhadap masalah sosial yang dihadapi bangsa. Kurangnya antusias, tata krama,  semangat dan kerja keras jadi benih penyakit generasi bangsa Indonesia kelak. Generasi muda saat ini krisis nasionalisme dan spiritualitas.

Menumbuhkan Semangat Nasionalisme Religius Pemuda Indonesia
Jika kita berkaca pada sejarah, harusnya sangat malu melihat aura semangat pemuda tempo dulu. Saat mereka berjuang merebut kemerdekaan, bersikukuh dari jeratan penjajah. Bermodalkan  idealisme, kecintaan pada bangsa dan spiritualitas pada Tuhan Yang Maha Esa, kini Indonesia bisa merdeka.
Dewasa ini, adanya konsep nasionalisme yang ber-Ketuhanan (nasionalisme religius), pemuda sekarang punya peran strategis dalam mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Anhar (2011), Indonesia telah melahirkan suatu nasionalisme yang berkarakter keindonesiaan, yakni nasionalisme berketuhanan (nasionalisme religius). Nasionalisme religius dimaksud adalah pengejewantahan nilai yang bersumber terutama dari Islam, nasionalisme modern, dan kearifan tradisional bangsa. Bentuk nyata nasionalisme religius itu telah dirumuskan dalam bentuk dasar, falsafah atau ideologi negara yaitu Pancasila dan konstitusi negara yaitu UUD 1945. Sedangkan Pancasila dan UUD 1945 secara nyata adalah kalimatun sawā` (titik temu) warga bangsa yang plural yang berfungsi mengikat dan menjamin kohesivitas berbangsa dan bernegara.

Pendapat tersebut sangat relevan dengan  kondisi pemuda sekarang yang butuh suntikan semangat, agar terbebas dari krisis idealisme, nasionalisme dan spir. Sebagai orang tua, kita tidak bisa berpangku tangan, harus ada upaya yang nyata dalam menumbuhkan semangat nasionalisme religius pemuda Indonesia untuk menguatkan pondasi karakter para pemuda. Menerapkan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari yang secara substansinya juga menerapkan nilai-nilai keislaman.

Pada masa keemasan Bung Tomo, terbentuk dalam wadah organisasi, yakni BUDI TOMO, sebuah wadah tumpah ruahnya semangat dan ide-ide cemerlang untuk menggapai Indonesia merdeka. Di sana, nuansa kekeluargaan sangat kuat disertai sopan santun yang berwibawa.

M Junaedi Al Anshori. (2010 :114) Budi utomo telah menunjukkan sebagai organisasi pergerakan nasional pertama yang memelopori dan membangkitkan semangat para pemuda dan organisasi pergerakan nasional selanjutnya. Peristiwa sumpah pemuda diawali dengan dibentukknya perkumpulan–perkumpulan khusus pemuda yang dipelopori pelajar dan mahasiswa mempunya peranan besar dalam memperjuangkan Indonesia merdeka  seperti Tri koro Darmo, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Islamienten Bond, Perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia dan Pemuda Indonesia

 Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan wadah-wadah semangat pemuda? Dalam hal ini kita tidak bisa menyelesaikan secara individu, seperti halnya BUDI UTOMO, kita harus punya organisasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Atau minimal sebuah komunitas sebagai wadah perkumpulan para pemuda disekitar kita.
Mempertahankan kemerdekaan ini juga butuh perjuangan. Butuh pemuda-pemudi Indonesia yang punya power, integritas, spiritualitas, nasionalisme yang tinggi. Tidak ada salahnya jika kita memulai dari lingkungan yang terdekat para pemuda, yakni keluarga dan orang tua. Karena dari kasih sayang dan pendidikan keluarga lah, akan tumbuh bibit generasi bangsa yang berkualitas.

Bersama GABO, Sebarkan Semangat Cinta Orang Tua-Cinta Bangsa
GABO (Gerakan Anak Bahagiakan Orang Tua) hadir untuk merangkul anak-anak muda dan meningkatkan kualitas anak muda, agar bisa membahagiakan orang tua dan memberikan kontribusi positif pada bangsa Indonesia. Komunitas ini didirikan oleh seorang motivator psikolog remaja yaitu Bapak Marenda Darwis. Selain sebagai pembicara, melalui buku-buku yang beliau tulis, kita diajak menjelajah dunia anak muda sekarang, mulai dari permasalahan yang beragam hingga cara pendekatan yang solutif.
Salah satu cara untuk memutus pergaulan yang negatif  terhadap pergaulan bebas adalah dengan menumbuhkan rasa cinta anak muda kepada orang tua. Launching GABO ini memang belum ada satu tahun. Tapi, sejak dua tahun yang lalu, banyak para relawan sudah berpartisipasi aktif dalam kegiatan remaja di beberapa sekolah, khususnya kabupaten Kediri.  Bak gayung bersambut, saya pun mengikuti training mentoring.

            Program-program GABO menyuburkan benih nasionalisme religius pemuda Kediri. Misalnya;  program Remaja Cinta Berbagi, BAKSOS, menyantuni anak yatim, Nongkrong bareng, Bersih desa, Motivatalk, motivation training, skill training, dan lainnya. Di GABO juga disediakan Kafe Curhat, istilah tempat kongkow anggota GABO yang ingin sharing tentang kegalauan, kegelisahan dan sekaligus tempat curhat para orang tua dan guru.
            Jika dilihat dari pengalaman selama bergabung menjadi pembina di GABO, sebenarnya, kasus anak muda antara satu dengan yang lain itu hampir sama, mungkin hanya berkutat masalah percintaan, anak yang merasa dikekang orang tua, anak merasa dewasa dan benar dalam mengambil keputusan, kabur dari rumah karena keinginan yang tidak dituruti orang tua. Semua kasusnya bermula dari hal yang sederhana.

Eits, meski terkesan sepele cara penanganannya pun berbeda. Harus ada pendekatan yang interaktif dan emosional. Tidak mudah memang karena banyak kondisi eksternal yang mempengaruhi, seperti televisi dan sosial media yang memiliki porsi lebih lebih besar dalam penerimaan informasi. Kasus seperti itu memang diperlukan penyelesaian secara individu. Face to face. Dengan kerjasama orang tua atau orang terdekat.
Pernah suatu ketika, ada orang tua yang datang ke rumah pak Marenda Darwis yang berkonsultasi tentang ‘kenakalan anaknya’. Sebut saja Doni, ia kabur dari rumah karena tidak diberikan motor, Doni ini duduk dibangku SMA kelas IX, semenjak bergaul dengan si A (yang juga anggota geng motor) memiliki perubahan negatif yang signifikan, seperti suka berbohong, mencuri dan bolos sekolah. Banyak anak muda yang terserang penyakit ‘kabur’ namun kabur yang tidak permanen maksudnya si anak akan pulang ke rumah dan kembali ‘merengek’ meminta sesuatu.

Tidak hanya 1 atau 2 siswa saja kerap curhat tentang kasus yang sama. Jika sudah ‘kabur’, dampaknya pasti sangat buruk, remaja akan mudah terpengaruh ajakan pemakaian narkoba, tawuran, seks bebas, pencurian dan lainnya. Oleh karena itu, GABO punya visi, bagaimana anak muda mencintai orang tuanya daripada mencintai lawan jenis yang statusnya tidak jelas. Seperti kita tahu, pacaran juga bisa membahayakan generasi muda.

Lantas, apa yang bisa dilakukan anak muda untuk mewujudkan kecintaannya pada orang tua? Banyak sekali. Seperti, anak muda suka membantu orang tua, semangat belajar, rajin ibadah (mendoakan orang tua), bersikap sopan santun kepada orang tua dan semangat meningkatkan kualitas diri untuk masa depan lebih baik, agar kelak bisa membantu ekonomi orang tua juga.
Dalam rangka mengokohkan karakter anak muda, aspek spiritualitas juga harus diutamakan agar anak muda memiliki pedoman yang kuat, tidak mudah terpengaruh pergaulan bebas. Melalui pembinaan religi, GABO menggulirkan program-program keseharian untuk anggotanya seperti pengiriman SMS motivasi (akademik ataupun ibadah), pertemuan 1-2 pekan sekali, outbond religi dan seminar pengembangan diri sesuai bakat dan minat anggota GABO. 

Tujuan utama dari program GABO diatas yakni membangun hubungan emosional antara kakak (pembina) dengan adik (yang dibina). Jjika sudah terjalin emosional dan kenyamanan maka mudah sekali bagi kita untuk menuntun anak-anak muda ini ke arah positif, bersama meningkatkan diri. Dan, biasanya mereka juga mudah menerima nasihat.

Lain cerita, jika kasus seperti anak muda (geng motor) yang ada di desa saya, tentu butuh pendekatan berbeda. Perlu melibatkan sebuah instansi, butuh sosok yang berperan memberikan keteladan dan mengadakan program desa yang bisa menyibukkan anak muda. Dilibatkan aktif dalam organisasi desa seperti karang taruna, kegiatan rohani, bersih desa, guyup rukun dan kegiatan lainnya.

Menurut Marenda Darwis, respon para orang tua dan guru beberapa sekolah di kediri mendukung adanya komunitas GABO, meski bersifat program luar sekolah. Kini, banyak tawaran GABO masuk ke sekolah dan desa untuk memberikan suntikan positif melalui program-program andalan GABO. Proyek besar jangka panjang GABO yakni mengajak anak muda agar fokus membahagiakan orangtua (mengembalikan budaya adhap asor), bergabung dengan kegiatan positif dan mengurangi tingkat kriminalitas. Harapan besar, akan ada GABO di seluruh pelosok nusantara karena generasi yang cemerlang di usia remaja inilah calon pemimpin bangsa berkualitas.    
      
Kesimpulan
GABO hanyalah sarana untuk menumbuhkan semangat nasionalisme religius pemuda Kediri dan kota sekitarnya. Butuh dukungan secara integritas, baik dari individu (keluarga), sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Secara individu, masyarakat dan pemerintah memiliki peran yang sama penting untuk menumbuhkan benih-benih nasionalisme para pemuda. Mulai dari keluarga, terutama orang tua dituntut untuk terus menggali informasi tentang keseharian putra/i nya, mendidik anak-anak sesuai zamannya. Begitu juga dengan masyarakat, keberadaan komunitas GABO merupakan langkah awal untuk menggulirkan program-program baru, baik secara akademik, religi dan skill, bisa dimaksimalkan dalam bentuk komunitas informal. Selain GABO, saya yakin masih banyak komunitas lainnya yang memiliki persamaan visi dan misi dalam rangka meingkatkan kualitas anak muda.

Pihak sekolah harus bersinergi dengan orang tua, jika tingkat SMP-SMA-Mahasiswa, pihak guru bukan hanya sebagai pendidik namun juga ‘sahabat’ yang bisa jadi tempat curhat para siswa. Menyiapkan fasilitas-fasilitas untuk menyalurkan bakat dan minat siswa. Supaya mereka disibukkan dengan kegiatan positif.

Di sisi lain, dibutuhkan sinergitas dengan pemerintah, seyogyanya pemerintah memiliki aturan tegas dan jelas terhadap tayangan televisi dan situs internet yang berbahaya. Sekarang banyak sekali tayangan sinetron yang kebanyakan temanya adalah aktivitas pacaran.
 Dari pemerintah, diharapkan bisa memberikan dukungan terhadap upaya-upaya kecil yang dilakukan komunitas, baik yang ada di sekolah maupun masyarakat. Jika perlu pemerintah bisa menggulirkan program kepemudaan ke desa-desa. Supaya perangkat desa semangat menggerakkan anak-anak muda untuk memaksimalkan potensi daerah.

            Dalam sebuah pidato Sukarno, ia pernah mengorbankan semangat juang pemuda. “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Peran pemuda sangatlah besar, jangan sampai kita lengah membiarkan anak muda sekarang terlena dengan kesibukannya sendiri. Langkah-langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah bentuk kecintaan kita pada bangsa Indonesia.

Saya pun bersyukur bisa bergabung dengan komunitas GABO. Kami tidak ingin, generasi bangsa ini lupa akan jasa dan perjuangan orang tua, kami tidak ingin bangsa ini dipimpin oleh pemuda yang tidak punya andhap asor ke orang tua, kami tidak ingin kelak bangsa ini dipimpin oleh generasi hedonis yang tidak peka dengan urusan sosial dan kesulitan rakyatnya. Semoga dari komunitas GABO, tercetak anak muda berkualitas, bisa bermanfaat untuk orang tua, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sumber Referensi
Berita Mahasiswi Tewas
Data BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Tahun 2008-2010

Gunarsa, S. D. (1989). Psikologi Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Kartini Kartono. 1988. Psikologi Remaja. Bandung : PT. Rosda Karya
M Junaedi Al Anshori. 2010. Sejarah nasional indonesia masa prasejarah sampai masa proklamasi kemerdekaan.  Jakarta Barat :  PT MAPAN (PT MITRA PANAITAN)
Simon Sebag  montefiore. 2008. Pidato-pidato yang mengubah dunia. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama


Gerakan Anak Bahagiakan Orangtua
Beberapa Anggota GABO



Tulisan ini terpilih menjadi juara 2 Lomba Kepenulisan Tingkat Nasional pada Bulan MEI 2015

Spesial saya persembahkan untuk Penasehat dan pengurus komunitas GABO Pare Kediri
(Thanks for your dedication for next generation)