Sempurnakan Bekal Masa Depan Anak Hingga Akhir Hayat

Posted by with 8 comments
Buku Parenting Best Seller

Judul: Segenggam Iman Anak Kita
Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit: Pro-U MEdia
Terbit: Maret 2014
Tebal: 288 halaman; 14 x 20 cm

Sejak kuliah, saya sering baca tulisan parenting Mohammad Fauzil Adhim. Hampir setahun buku yang berjudul Segenggam Iman Anak Kita ‘mangkrak’ di lemari. Adanya speedy wifi di rumah nyaris membuat saya malas baca buku-buku, bahkan untuk mengeluarkan budget  pembelian buku terasa berat. Nah, karena rumah maya Bee Blog sudah agak cakep dan rapih, mulai deh sekarang semangat baca buku yang berkualitas supaya bisa di-review kemudian di share, harapannya bisa lebih bermanfaat bagi pengunjung Bee-Blog.


Kembali ke buku ya,  Segenggam Iman Anak Kita...dari baca judulnya saja, saya sudah merinding. Kover depan menggambarkan sosok seorang ayah yang menggenggam erat tangan buah hatinya. Saat meneliti buku ini, tidak ada endorsement dari tokoh siapapun, hanya kata pengantar dan ucapan terimakasih dari penulis. Mungkin karena kredibilitas beliau sudah tidak diragukan para pembaca setia. Begitu juga di kover belakang tidak ada endorsement. Hanya epilog, apalagi biografi penulis juga nihil. Saya yakin meski nggak selengkap text ‘promo’ seperti buku pada umumnya, buku ini memang spesial untuk pembaca setia tulisan beliau dan orangtua yang benar-benar ingin mencetak anak-anak berkualitas yang punya iman kuat hingga akhir hayat.

Segenggam Iman Anak Kita ditulis secara naratif diselingi kisah dan renungan yang relevan di masa sekarang. Tulisan dari BAB awal hingga akhir akhir dijelaskan runut. Menjadi orangtua untuk anak kita, Membekali anak, menghidupkan Al-Quran pada diri anak kita, Cerdas saja tidak cukup dan terakhir langkah menempa jiwa anak menuju kesempurnaan bekal masa depan.

Tantangan mendidik anak zaman sekarang sangatlah berat, era globalisasi punya pengaruh besar dalam proses mengasuh anak-anak. Kita “dipaksa” untuk mendidik anak sesuai zamannya dengan berpegang iman. Belajar tentang ilmu iman tak cukup, harus dibarengi keshalihan pribadi. Kita diajak menakar kembali dalam proses pengasuhan anak-anak kita, adakah yang menguatkan iman anak kita atau justru sebaliknya?

Berkaca pada kisah Nabi Luth dan Nabi Nuh ‘alaihimasalam, keduanya nabi yang Alloh Ta’ala berikan kemuliaan tinggi. Dengan akhlak dan iman yang kuat ternyata ‘tidak’ mencukupi untuk mengantarkan anak-anak agar menjadi beriman. Usut punya usut, seorang istri yang berkhianat akan meruntuhkan iman di rumah kita.

Ayah-bunda harus sejalan. Sama-sama punya visi kuat dalam mendidik anak. Bagi yang belum menikah, harusnya benar-benar memilih sosok istri yang sholiha begitu juga sebaliknya. Kemudian pertanyaan selanjutnya, jika sudah dikaruniai anak, apakah ayah bunda sudah bersyukur dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab secara totalitas?

Dalam proses mendidik, sekolah terbaik dan berkualitas saja tidak cukup untuk menjamin kebedaaan iman pada anak. Menurut Fauzil Adhim, ayah bunda harus meletakkan visi pada anak.  Visi sebagai an ideal standrad of excellent (standrat ideal keunggulan), visi yang kuat akan membangkitkan sense of purpose and direction. Kepekaan terhadap tujuan dan arah. Dr Muhammad Iqbal, seorang pemikir besar Muslim yang sangat berpengaruh. Gagasan-gagasannya banyak yang dikaji orang hingga akhir ini. Saat masih kecil Iqbal selalu dinasehati ayahnya, “ Bacalah Al-qur’an seakan-akan dia diturunkan untukmu”. Ternyata, nasehat inilah yang mempengaruhi jiwa Iqbal hingga dewasa.

 Secara kontekstual, apa yang disampaikan penulis mencakup banyak hal seperti penanaman niat, model pengasuhan yang baik, psikologi anak dan kiat-kiat orangtua jika menghadapi kesalahan terjadi pada anak.

Ada satu cerita beliau yang menurut saya sangat relevan dengan kondisi anak-anak saat ‘nyemplung’ media sosial.  ayah bunda diharapkan menengok status facebook atau SMS anak-anak, kebanyakan mereka menguasai bahasa alay dan kata yang tak berguna. Padahal dalam proses ini, cakap bahasa bisa mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berfikir. Role model anak-anak sekarang bukan lagi Rosululloh, yang dibanggakan mereka adalah artis-artis  yang kerap menghiasi televisi. Hingga, pacaran online khas anak muda yang sudah menyerang anak-anak zaman sekarang. (Baca juga  Gerakan Anak Bahagiakan Orangtua)
Teknologi begitu melesat lebih cepat dari apa yang kita duga. Jika bukan iman, apa lagi yang bisa kita jadikan senjata penangkal? Jika bukan Al-Qur’an yang menjadi pedoman anak kita, warisan apa lagi yang membuat mereka kuat berpegang syariat hingga akhir hayat?
Anyway....saya suka banget buku ini. Tamparan keras seakan mendarat ketika saya malas bermain, malas ngaji bareng anak-anak dan merampas jatah mendongeng karena masygul dengan gadget di tangan.
Sebagai ibu, miris melihat anak-anak remaja yang tak punya arah tujuan, hanya jadi bebek di pergaulannya. Meski...jujur dalam proses pengasuhan sekarang, saya juga belum maksimal. Gaya tulisan Fauzil sangat khas, masih seperti dulu. Hehe.....perbincangan ideologis lebih kental tanpa mengesampingkan hal-hal praktis.
Bagi pembaca yang tidak terbiasa membaca tulisan agak berat mungkin rada kesulitan memahami, tapi karena diselilingi inspirasi, motivasi, cerita dan renungan, tulisan ini jadi renyah dan mengalir. Buku ini memang layak dinikmati bahkan menurut saya “WAJIB” dimiliki temen-temen yang mau menikah, baru punya anak balita atau sudah punya anak remaja. 


8 komentar:

  1. aku juga salah satu penggemar muhammad fauzil adzim mb...juga mengoleksi beberapa bukunya seperti positive parenting..memang bagus2 semua bukunya dan wajib baca nih mksh reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiip....yuuk say kita lanjutin, semoga jadi bekal buat kita mendidik anak2 :)

      Hapus
  2. Ahayy...buru2 umpetin gadget nih abis baca artikel ini :) Iya nih, godaan gadget memang luar biasa, harus bisa segera dikurangi levelnya ;) Thanks for share ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi....samaaaaa mak, eike juga sering khilaf. untung aja ayah ngerti kerjaan mamanya #nytatus

      Hapus
  3. Fenny dl aja kudet bgt mslh bahasa alay, semoga besok bisa ngikutin

    BalasHapus
    Balasan
    1. mumpung anak kita balita, hayuuuk belajar bahasa alay mak...ya biar ga kudet banget kan?

      Hapus
  4. asik ada referensi bacaan baru neh ;)

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.